mencintai produk dari dalam negeri merupakan suatu bentuk keharusan agar yang telah dimiliki semakin lestari dan tidak punah atau bahkan terlupakan.
Produk Indonesia beserta Filosofinya
Sebenarnya, filosofi ondel-ondel sendiri juga tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 11 Tahun 2017 tentang Ikon Budaya Betawi. Dalam pergub itu, filosofi ondel-ondel adalah: "Sebagai perlambang kekuatan yang memiliki kemampuan memelihara keamanan dan ketertiban, tegar, berani, tegas, jujur dan anti manipulasi". Namun sebelum dikenal sebagai kesenian khas Betawi, ondel-ondel adalah penolak bala atau kesialan karena dulu wajah ondel-ondel dibuat seram. Warna wajah ondel-ondel laki-laki adalah merah untuk menunjukkan keberaniannya sedangkan warna ondel-ondel wanita putih yaitu untuk menunjukkan kesuciannya.
Dalam perjalanan sejarahnya, pergelaran wayang golek mula-mula dilaksanakan oleh kaum bangsawan. Terutama peran penguasa terutama para bupati di Jawa Barat, mempunyai pengaruh besar terhadap berkembangnya wayang golek tersebut. Pada awalnya pertunjukan wayang golek diselenggarakan oleh para priyayi (kaum bangsawan Sunda) dilingkungan Istana atau Kabupaten untuk kepentingan pribadi maupun untuk keperluan umum. Fungsi pertunjukan wayang tersebut bergantung pada permintaan, terutama para bangsawan pada waktu itu. Pergelaran tersebut untuk keperluan ritual khusus atau dalam rangka tontonan/hiburan. Pertunjukan wayang golek yang sifatnya ritual, walupun ada tetapi sudah jarang sekali di pentaskan. Fungsi Wayang Golek di tengah-tengah masyarakat mempunyai kedudukan yang sangat terhormat. Di samping sebagai sarana hiburan yang sehat, ia juga berfungsi sebagai media penerangan dan pendidikan.
Reog pertama kali diciptakan oleh Ki Ageng Kuthu. Reog ini bernuansa satirik yang merupakan potret karikatural jawa saat itu. Ki Ageng Puthu adalah seorang pujangga anom (setara patih) Majapahit, bernama asli ki ktut surya alam yang merasa kecewa dg raja majapahit pada waktu itu. Lalu disini ia menciptakan Reog, topeng singa (singabarong) menggambarkan raja yang angkara murka namun ia dikendalikan oleh burung merak yang dibiarkan duduk diatas kepalanya (menggambarkan kendali istrinya yang cantik atas sang raja), irama terompet pelog terkesan sumbang diantara bunyi tetabuh lain yang berlaras slendro dimaksudkan untuk menggambarkan suara sumbang atau kritik yang sang patih sampaikan. Patih/pujangga anom, yang digambarkan sebagai ganongan, menari mengejek2 singabarong sehingga singabarong marah. Reog ki kuthu bertentangan dengan islam karena sang warok dalam kelompok ini tidak boleh menikah, tetapi untuk menyalurkan hasrat biologisnya mereka diperbolehkan gemblak/homoseks, selain itu juga ada ritual lain yg menjadi ibadah pada reog itu sendiri. Dan budaya minum-minuman keras seperti tuak dan ciu sangat kental pada pertunjukan ini.
Gamelan Jawa
Gamelan berasal dari bahasa jawa “gamel” yang berarti memukul/menabuh, diberi akhiran “an” yang menjadikannya sebagai kata benda, secara kata Gamelan memiliki filosofi G-A-M-E-L-A-N, G(Gusti) A(Allah) M(Maringi,memberi) E(Emut,ingat) L(Lakonono) A(Ajaran) N(Nabi).Sedangkan istilah gamelan mempunyai arti satu kesatuan alat musik yang dimainkan secara bersama-sama. Gamelan jawa memiliki instrumen beragam, setiap instrumen yang ada untuk Gamelan Jawa memiliki makna yang berkaitan dengan kehidupan.
Patung Selamat Datang
Patung selamat datang dibangun untuk menyambut para atlet peserta Asian games pada tahun 1962. Patung ini terdapat di depan gedung hotel Indonesia yang berdiri persis diatas air mancur bundaran HI. Patung perunggu ini dibuat oleh Edhi Sunarso, dan dirancang oleh Henk Ngantung mantan gubernur Jakarta. Sesuai namanya, patung ini berdiri untuk memberikan salam selamat datang buat para pendatang karena memang patung ini menghadap ke arah Kota(Utara) sebagai pusat bisnis, perdagangan dan pelabuhan waktu itu. Disekitar patung ini ada lima formasi air mancur yang dijadikan simbol ideologi negara republik Indonesia, yaitu Pancasila.
Pembangunan Jembatan Semanggi diprakarsai oleh Presiden Soekarno pada tahun 1961. Penamaan semanggi ini ternyata disesuaikan dengan bentuknya, yaitu mirip dengan daun Semanggi. Dulu, kawasan tempat dibangunnya jembatan itu berupa rawa-rawa. Di sana banyak tumbuh pohon Semanggi, yakni sejenis paku air yang struktur daunnya agak menyatu atau bertumbuk. Dalam satu kesempatan, Bung Karno sendiri pernah mengemukakan filosofi daun Semanggi. Filosofi yang dimaksud adalah simbol persatuan. Begitulah Bung Karno memfilosofikan Jembatan Semanggi, yang memiliki konsep perempatan tanpa traffic light. Kini, Jembatan Semanggi telah menjadi sejarah, sekaligus saksi sejarah bagi banyak peristiwa penting di negeri ini. Jembatan tersebut menjadi poros lalu lintas Ibu Kota, sekaligus menjadi simbol kemakmuran perekonomian.
Gudeg adalah contoh sempurna dari cara memasak ala Jawa yang cukup detail dan memakan waktu yang cukup lama. Memasak gudeg dipahami sebagai cerminan sempurna dari filosofi Jawa yang penuh nilai ketenangan, kesabaran dan teliti, tidak terburu-buru dan anti-sembrono. Sebagai makanan tradisi, gudeg juga menjalankan fungsi lain, yakni merekam perubahan Yogyakarta. Pengetahuan tentang gudeg pun diwariskan dari generasi ke generasi dan banyak orang. Dahulu, sebelum ada gudeg kering dan gudeg kemasan dalam kaleng, makanan ini disajikan dengan areh, kuah dari santan kelapa bercampur dengan ampas minyak kelapa yang banyak sebagai menu sarapan keluarga. Beberapa menyebutnya gudeg basah karena teksturnya.
Rumah Kebaya
Disebut dengan Rumah Kebaya karena bentuk atap yang menyerupai pelana yang dilipat dan apabila dilihat dari samping maka lipatan-lipatan tersebut terlihat seperti lipatan kebaya. Rumah Kebaya sendiri memiliki karakteristik yang khas. Ciri khas dari rumah ini adalah dilihat dari teras yang luas. Teras tersebut berguna untuk menjamu tamu dan menjadi tempat bersantai keluarga. Di teras, terdapat kursi bale-bale dari rotan, bambu, atau kayu jati yang disebut amben. Lantai teras diberi nama gejogan, yang memiliki simbol penghormatan kepada tamu. Bagi masyarakat Betawi, gejongan ini dianggap sakral atau kramat, karena berhubungan langsung dengan tangga masuk bernama balaksuji, yakni penghubung rumah dengan area luar. Masyarakat Betawi juga membuat sumur di depan rumah dan pemakaman yang berada di samping rumah. Keberadaan makam di samping rumah merupakan tradisi lawas masyarakat Betawi. Rumah Kebaya memiliki dinding rumah yang terbuat dari panel-panel yang dapat dibuka dan digeser-geser hingga ke tepi. Tujuannya agar rumah terasa lebih luas. Selain itu, sirkulasi udara pun akan terjadi tanpa sekat.
Monas
Memiliki bentuk yang sangat ikonik, ternyata desain dari Monumen Nasional ini memiliki arti makna filosofis yang mendalam, tiang menara monas merupakan perlambang dari “Lingga”, lambang laki-laki yang bermakna keseburuan. Sedangkan landasan pada bagian bawahnya merupakan “Yoni, lambang perempuan yang bermakna lembut dan feminin. Selain itu, kedua formasi inipun memiliki makna lain yakni alu dan lesung, perlengkapan untuk menumbuk padi, sebuah gagasan desain yang diutarakan langsung oleh Ir. Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Ukuran-ukuran pada Monas juga sarat akan makna kemerdekaan Republik Indonesia. Tinggi pelataran cawan setinggi 17 meter melambangkan tanggal 17, tentang tinggi antara ruang museum pada bagian bawah ke dasar cawan setinggi 8 meter melambangkan bulan Agustus, dan luas pelataran berukuran 45 x 45 meter yang melambangkan tahun 1945, tanggal merdekanya Republik Indonesia. Presiden Ir. Soekarno menunjuk arsitek Soedarsono dan F. Silaban untuk membuat rancangan Tugu Nasional yang akhirnya disetujui pada tahun 1961. Dari situs majalah anak-anak, Bobo disebutkan bahwa Teuku Markam, seorang saudagar yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam menyumbang 28 kilogram untuk melapisi lidah api Monas. Semasa hidupnya, Teuku Markam terus berjuang membela tanah air dan kemudian meninggal pada tahun 1985.
Saat pertama kali dibuat, emas yang digunakan untuk melapisi lidah api mempunyai berat 35 kilogram. Tetapi pada tahun 1995, saat Indonesia merayakan ulang tahun emas kemerdekaan yaitu 50 tahun lapisan emasnya ditambah lagi hingga seberat 50 kilogram. Lidah api ini melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia yang berkobar saat melawan penjahat.
Referensi Hasil Penemuan Filosofinya
- https://penerbitbukudeepublish.com/sejarah-wayang-golek/
- https://hanifprincestrat.wordpress.com/2010/02/12/filosofi-reog-ponorogo-pada-masa-menjelang-perang-jawa-1825-1830/
- https://pesantrennuris.net/2021/02/13/filosofi-menarik-gamelan-jawa/
- https://jadiberita.com/96131/kisah-dan-filosofi-balik-jembatan-semanggi.html
- https://nationalgeographic.grid.id/read/132646756/filosofi-gudeg-simbol-rindu-dan-rekaman-perubahan-kota-yogyakarta?page=all
- https://www.phm-hotels.com/hotel/BNBJKG/blog/blog/detail/explore-jakarta-diindonesia-aja-monas-monumen-nasional
- https://www.rumah.com/berita-properti/2016/6/128683/filosofi-rumah-kebaya-adat-betawi
