Resume Materi Silabus
Audit Teknologi Sistem Informasi M6-M10
Disusun oleh:
Nama :
Ayu Rizqy Utami
NPM : 10120213
Kelas : 4KA21
Dosen Pengampu
: Kurniawan B. Prianto S.Kom, S.H, M.M
Mata Kuliah: Audit Teknologi Informasi
SISTEM INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2024
Poin Pokok Silabus Bahasan 1
ISACA
IS audit Standards and Guidelines-COBIT 5
Sejarah perkembangan COBIT yang pertama
kali muncul adalah pada tahun 1996 dengan COBIT versi 1 yang menekankan pada
audit dilanjutkan dengan COBIT versi 2 pada tahun 1998 yang menekankan pada
tahap pengendalian, lalu COBIT 3 pada tahun 2000 yang berorientasi pada aspek
manajemen. Pada tahun 2005, COBIT kembali muncul dengan versi 4 tepatnya pada
bulan Desember dan dilanjutkan pada bulan Mei 2007 muncul COBIT versi 4.1 yang
lebih beorientasi pada tata kelola TI. Dan terakhir, saat ini COBIT versi 5
tepatnya pada bulan Juni 2012 yang berorientasi pada tata kelola TI perusahaan
dan manajemen COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology)
merupakan audit sistem informasi dan dasar pengendalian yang dibuat oleh
Information Systems Audit and Control Association (ISACA) dan IT Governance
Institute (ITGI) pada tahun 1992.
COBIT Framework adalah standar kontrol
yang umum terhadap teknologi informasi, dengan memberikan kerangka kerja dan
kontrol terhadap teknologi informasi yang dapat diterima dan diterapkan secara
internasional. COBIT bermanfaat bagi manajemen untuk membantu menyeimbangkan
antara resiko dan investasi pengendalian dalam sebuah lingkungan IT yang sering
tidak dapat diprediksi. Bagi user, ini menjadi sangat berguna untuk memperoleh
keyakinan atas layanan keamanan dan pengendalian IT yang disediakan oleh pihak
internal atau pihak ketiga. Sedangkan bagi Auditor untuk mendukung atau
memperkuat opini yang dihasilkan dan memberikan saran kepada manajemen atas
pengendalian internal yang ada. COBIT merupakan kombinasi dari prinsip-prinsip
yang telah ditanamkan yang dilengkapi dengan balance scorecard dan dapat
digunakan sebagai acuan model (seperti COSO) dan disejajarkan dengan standar
industri, seperti ITIL, CMM, BS779, ISO 9000 COBIT versi 4.1 adalah model
standar pengelolaan IT yang telah mendapatkan pengakuan secara luas,
dikembangkan oleh Information Technology Governance Institute (ITGI) dari
Information System Audit and Control Association (ISACA). Menurut IT Governance
Institute, 2007, menyatakan bahwa pada versi 4.1 ini diuraikan good practices,
domain-domain dan proses kerangka kerja (framework) TI yang ada. COBIT 5 adalah
evolusi dari framework sebelumnya yakni,
COBIT 4.1 yang ditambah dengan Val IT 2.0
dan Risk IT COBIT 5 adalah kerangka bisnis untuk tata kelola dan manajemen
perusahaan IT (IT gevornance framework), dan juga kumpulan alat yang mendukung
para manager untuk menjembatani jarak (gap) antara kebutuhan yang dikendalikan
(control requirments), masalah teknis (technical issues) dan resiko bisnis
(business risk).
Pengertian COBIT 5 adalah Informasi
merupakan sumber daya utama bagi enterprise. Teknologi memegang peranan penting
yang dapat meningkatkan fungsi informasi pada enterprise, sosial, publik dan
lingkungan bisnis. COBIT 5 memberikan layanan kerangka kerja secara
komprehensif untuk membantu pemerintah dan manajemen IT dalam sebuah perusahaan
mencapai tujuan yang diharapkan Pengertian COBIT 5 adalah sebuah framework atau
kerangka kerja yang memberikan layanan kepada enterprise, baik itu sebuah
perusahaan, organisasi, maupun pemerintahan dalam mengelola dan memanajemen
aset atau sumber daya IT untuk mencapai tujuan enterprise tersebut.
Pada COBIT 5, proses-proses seperti APO13
Manage Security, DSS04 Manage Continuity dan DSS05 Manage Security Services
memberikan panduan dasar mengidentifikasi, mengoperasikan dan memonitor sistem
untuk manajemen keamanan secara umum.
Menggambarkan keamanan informasi pada
enterprise termasuk:
1. Responsibilities terhadap fungsi IT
pada keamanan informasi.
2. Aspek-aspek yang akan meningkatkan
efektivitas kepemimpinan dan manajemen keamanan informasi seperti struktur
organisasi, aturan-aturan dan kultur.
3. Hubungan dan jaringan keamanan
informasi terhadap tujuan enterprise.
Memenuhi kebutuhan enterprise untuk:
1. Menjaga risiko keamanan pada level yang
berwenang dan melindungi informasi terhadap orang yang tidak berkepentingan
atau tidak berwenang untuk melakukan modifikasi yang dapat mengakibatkan
kekacauan
2. Memastikan layanan dan sistem secara
berkelanjutan dapat digunakan oleh internal dan eksternal stakeholders.
3. Mengikuti hukum dan peraturan yang
relevan.
Sebagai tambahan, pengembangan COBIT 5 for
Information Security untuk memberikan fakta bahwa keamanan informasi merupakan
salah satu aspek penting dalam operasional sehari-hari pada enterprise.
Keunggulan: Menggunakan COBIT 5 for Information Secutiry memberikan sejumlah
kemampuan yang berhubungan dengan keamanan informasi untuk perusahaan sehingga
dapat menghasilkan manfaat perusahaan seperti:
1. Mengurangi kompleksitas dan
meningkatkan efektivitas biaya karena integrasi yang lebih baik dan lebih
mudah.
2. Meningkatkan kepuasan pengguna.
3. Meningkatkan integrasi keamanan
informasi dalam perusahaan.
4. Menginformasikan risiko keputusan dan
risk awareness.
5. Meningkatkan pencegahan, deteksi dan
pemulihan.
6. Mengurangi insiden (dampak) keamanan
informasi.
7. Meningkatkan dukungan untuk inovasi dan
daya saing.
8. Meningkatkan pengelolaan biaya yang
berhubungan dengan fungsi keamanan informasi.
9. Pemahaman yang lebih baik dari keamanan
informasi.
Kriteria Informasi berdasarkan COBIT Untuk
memenuhi tujuan bisnis, informasi perlu memenuhi kriteria tertentu, adapun 7
kriteria informasi yang menjadi perhatian COBIT, yaitu sebagai berikut:
1. Effectiveness (Efektivitas). Informasi
yang diperoleh harus relevan dan berkaitan dengan proses bisnis, konsisten
dapat dipercaya, dan tepat waktu.
2. Effeciency (Efisiensi). Penyediaan
informasi melalui penggunaan sumber daya (yang paling produktif dan ekonomis)
yang optimal.
3. Confidentially (Kerahasiaan). Berkaitan
dengan proteksi pada informasi penting dari pihak-pihak yang tidak memiliki hak
otorisasi/tidak berwenang.
4. Intergrity (Integritas). Berkaitan
dengan keakuratan dan kelengkapan data/informasi dan tingkat validitas yang
sesuai dengan ekspetasi dan nilai bisnis.
5. Availability (Ketersediaan). Fokus
terhadap ketersediaan data/informasi ketika diperlukan dalam proses bisnis,
baik sekarang maupun dimasa yang akan datang. Ini juga terkait dengan
pengamanan atas sumber daya yang diperlukan dan terkait.
6. Compliance (Kepatuhan). Pemenuhan
data/informasi yang sesuai dengan ketentuan hukum, peraturan, dan rencana
perjanjian/kontrak untuk proses bisnis.
7. Reliability (Handal). Fokus pada
pemberian informasi yang tepat bagi manajemen untuk mengoperasikan perusahaan
dan pemenuhan kewajiban mereka untuk membuat laporan keuangan.
Komponen Control Objective Berdasarkan IT
Governance Institute (2012), Framework COBIT disusun dengan karakteristik yang
berfokus pada bisnis (bussiness focused). Pada edisi keempatnya ini, COBIT
Framework terdiri dari 34 high level control objectives dan kemudian
mengelompokan proses tersebut menjadi 4 domain, keempat domain tersebut antara
lain: Plannig and Organization, Acquisition and Implementation, Delivery and
Support, dan Monitoring and Evaluation.
Prinsip dari OBIT 5 Prinsip COBIT 5 :
Prinsip 1. Meeting Stakeholder Needs
Keberadaan sebuah perusahaan untuk menciptakan nilai kepada stakeholdernya –
termasuk stakeholders untuk keamanan informasi – didasarkan pada pemeliharaan
keseimbangan antara realisasi keuntungan dan optimalisasi risiko dan penggunaan
sumber daya yang ada. Optimalisasi risiko dianggap paling relevan untuk
keamanan informasi. Setiap perusahaan memiliki tujuan yang berbeda-beda
sehingga perusahaan tersebut harus mampu menyesuaikan atau melakukan customize
COBIT 5 ke konteks perusahaan yang dimiliki.
Prinsip 2. Covering the Enterprise
End-to-End COBIT 5 mengintegrasikan IT enterprise pada organisasi pemerintahan
dengan cara: · Mengakomodasi
seluruh fungsi dan proses yang terdapat pada enterprise. COBIT 5 tidak hanya
fokus pada ‘fungsi IT’, namun termasuk pada pemeliharaan informasi dan
teknologi terkait sebagai aset layaknya aset-aset yang terdapat pada
enterprise. · Mengakomodasi
seluruh stakeholders, fungsi dan proses yang relevan dengan keamanan informasi.
Prinsip 3. Applying a Single, Integrated
Network COBIT 5 dapat disesuaikan dengan standar dan framework lain, serta
mengizinkan perusahaan untuk menggunakan standar dan framework lain sebagai
lingkup manajemen kerangka kerja untuk IT enterprise. COBIT 5 for Information
Security membawa pengetahuan dari versi ISACA sebelumnya seperti COBIT, BMIS,
Risk IT, Val IT dengan panduan dari standar ISO/IEC 27000 yang merupakan
standar ISF untuk keamanan informasi dan U.S. National Institute of Standars
and Technology (NIST) SP800-53A.
Prinsip 4. Enabling a Holistic Approach
Pemerintahan dan manajemen perusahaan IT yang efektif dan efisien membutuhkan
pendekatan secara holistik atau menyeluruh. COBIT 5 mendefinisikan kumpulan
pemicu yang disebut enabler untuk mendukung implementasi pemerintahan yang
komprehensif dan manajemen sistem perusahaan IT dan informasi. Enablers adalah
faktor individual dan kolektif yang mempengaruhi sesuatu agar dapat berjalan
atau 7 7enablers yang digunakan pada COBIT 5 meliputi: 1. Principles, Policies
and Frameworks 2. Processes 3. Organisational Strucutres 4. Culture, Ethics and
Behaviour 5. Information 6. Services, Infrastructure and Applications 7.
People, Skills and Competencies
Prinsip 5. Separating Governance from
Management COBIT 5 dengan tegas membedakan pemerintahan dan manajemen. Kedua
disiplin ini memiliki tipe aktivitas yang berbeda, membutuhkan struktur
organisasi yang berbeda dan memiliki tujuan yang berbeda. COBIT 5 melihat
perbedaan tersebut berdasarkan sudut pandang berikut bekerja
ISACA (Information Systems Audit and Control Association) adalah sebuah
organisasi profesional yang mengembangkan standar dan panduan untuk audit
sistem informasi dan pengendalian. Salah satu kerangka kerja yang diterbitkan
oleh ISACA adalah COBIT (Control Objectives for Information and Related
Technology), yang saat ini dalam versi COBIT 2019 (versi terbaru pada saat
informasi ini disusun). COBIT 5 adalah pendahulu dari COBIT 2019 dan masih
berfungsi sebagai referensi yang penting dalam audit sistem informasi.
Berikut adalah beberapa
standar dan panduan yang disediakan oleh ISACA dalam kerangka kerja COBIT 5
untuk audit sistem informasi:
- COBIT 5:
- COBIT 5 adalah kerangka kerja
terintegrasi yang menyediakan prinsip-prinsip dan panduan untuk manajemen
dan pengendalian TI.
- Menetapkan tujuan bisnis yang
spesifik (CobIT Goals) yang dapat diukur, serta kriteria keberhasilan
yang jelas.
- Mengidentifikasi proses-proses TI
kunci dan menghubungkannya dengan tujuan bisnis.
- Memperkenalkan konsep nilai TI dan
menggambarkan bagaimana nilai tersebut dapat diberikan dan diukur.
- Memiliki panduan yang berfokus pada
proses-proses audit, pengendalian, dan asuransi TI.
- ISACA IS Audit Standards and
Guidelines:
- Standar dan panduan audit sistem
informasi yang diterbitkan oleh ISACA.
- Menyediakan pedoman bagi para
auditor dalam mengevaluasi sistem informasi dan pengendaliannya.
- Mengidentifikasi prinsip-prinsip
yang harus diikuti oleh auditor sistem informasi dalam menjalankan audit,
termasuk independensi, integritas, dan objektivitas.
- Menyediakan panduan tentang
bagaimana melaksanakan audit TI dengan efektif dan efisien.
- COBIT 5 for Information Security:
- Salah satu domain COBIT 5 yang
terkait dengan audit sistem informasi adalah COBIT 5 for Information
Security.
- Memaparkan prinsip-prinsip manajemen
keamanan informasi yang harus diterapkan dalam organisasi.
- Menyediakan panduan tentang
bagaimana mengevaluasi keamanan informasi, mengidentifikasi risiko
keamanan, dan menerapkan kontrol keamanan yang tepat.
- COBIT 5 for Assurance:
- Domain COBIT 5 for Assurance
menyediakan panduan tentang bagaimana memastikan bahwa sistem informasi
memenuhi persyaratan keamanan, keandalan, dan kepatuhan.
- Memaparkan proses-proses yang
diperlukan untuk memberikan keyakinan atau jaminan terkait dengan sistem
informasi.
- COBIT 5 Implementation:
- Memberikan panduan tentang bagaimana
mengimplementasikan kerangka kerja COBIT 5, termasuk dalam konteks audit
sistem informasi.
- Memaparkan langkah-langkah yang
diperlukan untuk merancang, menerapkan, dan memonitor penggunaan COBIT 5
dalam organisasi.
Standar dan panduan ini
membantu para profesional TI dan auditor sistem informasi dalam melaksanakan
audit, pengendalian, dan asuransi TI dengan memanfaatkan prinsip-prinsip
terbaik dan praktik yang telah diakui secara internasional.
Kepatuhan Anggota ISACA dan Pemegang
Sertifikasi
Sifat khusus audit dan jaminan teknologi
informasi (TI) serta keterampilan yang diperlukan untuk melakukan penugasan
tersebut memerlukan standar yang berlaku khusus untuk audit dan jaminan
TI. Pengembangan dan sosialisasi standar audit dan jaminan TI merupakan
landasan kontribusi profesional ISACA ® kepada komunitas
audit.
Standar audit dan jaminan TI menentukan
persyaratan wajib untuk audit TI. Mereka melaporkan dan menginformasikan:
·
Profesional
audit dan jaminan TI dengan tingkat kinerja minimum yang dapat diterima yang
diperlukan untuk memenuhi tanggung jawab profesional yang ditetapkan dalam Kode
Etik Profesional ISACA
·
Harapan
manajemen dan pihak berkepentingan lainnya dari profesi mengenai pekerjaan
praktisi
·
Pemegang
persyaratan Certified Information Systems Auditor ® (CISA ®
). Kegagalan untuk mematuhi standar-standar ini dapat mengakibatkan
penyelidikan terhadap perilaku pemegang CISA oleh Dewan Direksi ISACA atau
komite yang berwenang dan, pada akhirnya, tindakan disipliner.
Poin Pokok Silabus Bahasan 2
ITIL Audit Standards
1.
The IT Infrastructure Library (ITIL)
ITIL dikembangkan oleh The Office of
Government Commerce (OGC) suatu badan dibawah pemerintah Inggris, dengan
bekerja sama dengan The IT Service Management Forum (itSMF) dan British
Standard Institute (BSI) ITIL merupakan suatu framework pengelolaan layanan TI
(IT Service Management – ITSM) yang sudah diadopsi sebagai standar industri
pengembangan industri perangkat lunak di dunia. ITSM memfokuskan diri pada 3
(tiga) tujuan utama, yaitu:
1. Menyelaraskan layanan TI dengan
kebutuhan sekarang dan akan datang dari bisnis dan pelanggannya.
2. Memperbaiki kualitas layanan-layanan
TI.
3. Mengurangi biaya jangka panjang dari
pengelolaan layanan-layanan tersebut
Standar ITIL berfokus kepada pelayanan
customer, dan sama sekali tidak menyertakan proses penyelarasan strategi
perusahaan terhadap strategi TI yang dikembangkan.
2. ISO/IEC 17799 ISO/IEC 17799
dikembangkan oleh The International Organization for Standardization (ISO) dan
The International Electrotechnical Commission (IEC) ISO/IEC 17799 bertujuan
memperkuat 3 (tiga) element dasar keamanan informasi, yaitu:
1. Confidentiality – memastikan bahwa
informasi hanya dapat diakses oleh yang berhak.
2. Integrity – menjaga akurasi dan
selesainya informasi dan metode pemrosesan.
3. Availability – memastikan bahwa user
yang terotorisasi mendapatkan akses kepada informasi dan aset yang terhubung
dengannya ketika memerlukannya
3. COSO COSO merupakan kependekan dari
Committee of Sponsoring Organization of the Treadway Commission, sebuah
organisasi di Amerika yang berdedikasi dalam meningkatkan kualitas pelaporan
finansial mencakup etika bisnis, kontrol internal dan corporate governance.
COSO framework terdiri dari 3 dimensi yaitu:
1. Komponen kontrol COSO COSO
mengidentifikasi 5 komponen kontrol yang diintegrasikan dan dijalankan dalam
semua unit bisnis, dan akan membantu mencapai sasaran kontrol internal:
a. Monitoring.
b. Information and communications.
c. Control activities.
d. Risk assessment.
e. Control environment.
2. Sasaran kontrol internal
Sasaran kontrol internal dikategorikan
menjadi beberapa area sebagai berikut:
a. Operations – efisisensi dan efektifitas
operasi dalam mencapai sasaran bisnis yang juga meliputi tujuan performansi dan
keuntungan.
b. Financial reporting – persiapan
pelaporan anggaran finansial yang dapat dipercaya.
c. Compliance – pemenuhan hukum dan aturan
yang dapat dipercaya.
3. Unit/Aktifitas Terhadap Organisasi
Dimensi ini mengidentifikasikan unit/aktifitas pada organisasi yang
menghubungkan kontrol internal. Kontrol internal menyangkut keseluruhan
organisasi dan semua bagian-bagiannya. Kontrol internal seharusnya diimplementasikan
terhadap unit-unit dan aktifitas organisasi.
4. Control Objectives for Information and
related Technology (COBIT) COBIT Framework dikembangkan oleh IT Governance
Institute, sebuah organisasi yang melakukan studi tentang model pengelolaan TI
yang berbasis di Amerika Serikat
COBIT Framework terdiri atas 4 domain
utama: 1. Planning & Organisation. 2. Acquisition & Implementation. 3.
Delivery & Support. 4. Monitoring. 1. Planning & Organisation. Domain
ini menitikberatkan pada proses perencanaan dan penyelarasan strategi TI dengan
strategi perusahaan. 2. Acquisition & Implementation Domain ini
menitikberatkan pada proses pemilihan, pengadaaan dan penerapan teknologi
informasi yang digunakan. 3. Delivery & Support.
Domain ini menitikberatkan pada proses
pelayanan TI dan dukungan teknisnya. 4. Monitoring. Domain ini menitikberatkan
pada proses pengawasan COBIT mempunyai model kematangan (maturity models),
untuk mengontrol proses-proses TI dengan menggunakan metode penilaian (scoring)
sehingga suatu organisasi dapat menilai proses-proses TI yang dimilikinya dari
skala non-existent sampai dengan optimised (dari 0 sampai 5). COBIT juga
mempunyai ukuran-ukuran lainnya sebagai berikut:
1. Critical Success Factors (CSF) –
mendefinisian
2. Key Goal Indicators (KGI) –
mendefinisikan
3.Key Performance Indicators (KPI) –
mendefinisikan
1.
Critical
Success Factors (CSF) – mendefinisian
Mendefinisian
hal-hal atau kegiatan penting yang dapat digunakan manajemen untuk dapat
mengontrol proses-proses TI di organisasinya.
2.
Key
Goal Indicators (KGI)
Mendefinisikan
ukuran-ukuran yang akan memberikan gambaran kepada manajemen apakah
proses-proses TI yang ada telah memenuhi kebutuhan proses bisnis yang ada. KGI
biasanya berbentuk kriteria informasi:
a. Ketersediaan
informasi yang diperlukan dalam mendukung kebutuhan bisnis.
b. Tidak adanya
resiko integritas dan kerahasiaandata.
c. Efisiensi biaya
dari proses dan operasi yangdilakukan
d. Konfirmasi
reliabilitas, efektifitas, dan compliance.
3. Key Performance Indicators (KPI)
Mendefinisikan
ukuran-ukuran untuk menentukan kinerja proses-proses TI dilakukan untuk
mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. KPI biasanya berupa indikator
kapabilitas, pelaksanaan, dan kemampuan sumber daya TI. Control Objectives for
Information and related technology (COBIT) menyediakan standar dalam kerangka
kerja dokumen yang terdiri dari sekumpulan proses TI yang mempresentasikan
aktivitas yang dapat dikendalikan dan terstruktur. Memfokuskan pada kontrol dan
sedikit eksekusi, dimana lebih ditujukan kepada pendefinisian strategi dan
kontrol yang biasa dilakukan oleh manajemen tingkat atas.
ITIL (Information Technology
Infrastructure Library) adalah kerangka kerja best practice yang digunakan
dalam manajemen layanan TI. Meskipun ITIL tidak secara khusus menyediakan
standar audit, namun ITIL dapat digunakan sebagai panduan untuk mengembangkan
dan menerapkan proses manajemen layanan TI yang efektif, yang kemudian dapat
diaudit untuk memastikan kepatuhan dan kualitas layanan.
Dalam konteks audit TI yang berkaitan
dengan ITIL, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1.
Proses Manajemen Layanan ITIL:
·
Audit
dapat memeriksa implementasi dan efektivitas berbagai proses ITIL, seperti
Manajemen Permintaan Layanan, Manajemen Perubahan, Manajemen Kejadian,
Manajemen Kapasitas, dan lainnya.
2.
KPI dan Kriteria Kualitas Layanan:
·
ITIL
memberikan pedoman untuk pengukuran kinerja dan kualitas layanan TI. Auditor
dapat memeriksa apakah organisasi telah menetapkan Key Performance Indicators
(KPIs) yang tepat dan apakah kriteria kualitas layanan telah dipenuhi.
3.
Manajemen Perubahan:
·
Auditor
dapat memeriksa bagaimana organisasi mengelola perubahan dalam infrastruktur TI
dan layanan-layanan terkait sesuai dengan proses Manajemen Perubahan ITIL.
4.
Manajemen Konfigurasi:
·
ITIL
menekankan pentingnya Manajemen Konfigurasi untuk mengelola informasi tentang
konfigurasi perangkat lunak dan perangkat keras. Auditor dapat memeriksa apakah
organisasi memiliki proses yang efektif untuk memelihara basis data konfigurasi
dan memastikan kepatuhan terhadap standar.
5.
Pemantauan dan Pengukuran Kinerja:
·
ITIL
mendorong penggunaan pemantauan dan pengukuran kinerja untuk memastikan bahwa
layanan TI berjalan dengan efektif. Auditor dapat memeriksa apakah organisasi
memiliki alat-alat dan proses yang sesuai untuk memantau dan mengukur kinerja
layanan.
Meskipun ITIL tidak menyediakan standar
audit yang khusus, penggunaan ITIL sebagai kerangka kerja dapat membantu
organisasi dalam mengembangkan proses-proses yang efektif dan efisien dalam
manajemen layanan TI. Auditor kemudian dapat menggunakan prinsip-prinsip ITIL
sebagai pedoman untuk mengevaluasi implementasi dan kepatuhan terhadap
praktik-praktik manajemen layanan TI yang terbaik.
Poin Pokok Silabus Bahasan 3
Konsep Dasar Kontrol
dan Audit Sistem Informasi (SI)
Definisi
Kontrol
Kontrol
adalah sebuah sistem untuk mencegah, mendeteksi atau memperbaiki situasi yang
tidak teratur. Terdapat tiga aspek penting yang berkaitan dengan definisi
kontrol di atas, yaitu :
a.
Kontrol adalah sebuah sistem, dengan kata lain kontrol terdiri atas sekumpulan
komponen-komponen yang saling berhubungan dan bekerja sama untuk mencapai
tujuan yang sama.
b.
Fokus dari kontrol adalah situasi yang tidak teratur, dimana keadaan ini bisa
terjadi jika ada masukan yang tidak semestinya masuk ke dalam sistem.
c.
Kontrol digunakan untuk mencegah, mendeteksi dan memperbaiki situasi yang tidak
teratur, sebagai contoh :
1)
Preventive control : instruksi yang diletakkan pada dokumen untuk mencegah
kesalahan pemasukan data
2)
Detective control : Kontrol yang diletakkan pada program yang berfungsi
mendeteksi kesalahan pemasukan data
3)
Corrective control : program yang dibuat khusus untuk memperbaiki kesalahan
pada data yang mungkin timbul akibat gangguan pada jaringan, komputer ataupun
kesalahan user.
Secara
umum, fungsi dari kontrol adalah untuk menekan kerugian yang mungkin timbul
akibat kejadian yang tidak diharapkan yang mungkin terjadi pada sebuah sistem.
Tugas auditor adalah untuk menetapkan apakah kontrol sudah berjalan sesuai
dengan yang diharapkan untuk mencegah terjadinya situasi yang tidak diharapkan.
Auditor harus dapat memastikan bahwa setidaknya ada satu buah kontrol yang
dapat menangani resiko bila resiko tersebut benar-benar terjadi. Para auditor
sistem informasi secara khusus berkonsentrasi pada evaluasi kehandalan atau
efektifitas pengendalian / kontrol sistem.
Control
Audit Sistem Informasi
Control
Audit Sistem Informasi terdiri dari :
a.
Kontrol lingkungan (Environmental controls) Pengendalian lingkungan meliputi
hal-hal seperti kebijakan keamanan IS, standar, dan pedoman; struktur pelaporan
dalam lingkungan pemrosesan IS (termasuk operasi komputer dan pemrograman);
kondisi keuangan organisasi dan vendor jasa
b.
Kontrol keamanan fisik (Physical security controls) Kontrol keamanan fisik
berkaitan dengan perlindungan terhadap perangkat keras komputer, komponen, dan
fasilitas di mana mereka berada.
c.
Kontrol keamanan logis (Logical security controls) Kontrol keamanan logis
adalah yang telah dikerahkan dalam sistem operasi dan aplikasi untuk membantu
mencegah akses tidak sah dan penghancuran yang disengaja atau disengaja
terhadap program dan data.
d.
Kontrol operasi IS (IS operating controls) Kontrol operasi sistem informasi,
yang dirancang untuk membantu memastikan bahwa sistem informasi beroperasi
secara efisien dan efektif. Kontrol ini termasuk penyelesaian tepat waktu dan
akurat pekerjaan produksi, distribusi media output, kinerja cadangan dan
prosedur pemulihan, kinerja prosedur pemeliharaan.
Faktor
– Faktor Kontrol dan Audit Faktor-faktor yang mendorong pentingnya kontrol dan
audit sistem informasi (Weber, 1999, p.6) adalah antara lain untuk :
a.
Mendeteksi agar komputer tidak dikelola secara kurang terarah
b. Mendeteksi resiko kehilangan data.
c. Mendeteksi resiko pengambilan keputusan
yang salah akibat informasi hasil proses sistem komputerisasi
salah/lambat/tidak lengkap.
d.
Menjaga aset perusahaan karena nilai hardware, software dan personil yang
lazimnya tinggi.
e. Mendeteksi resiko error komputer.
f. Mendeteksi resiko penyalahgunaan
komputer (fraud).
g. Menjaga kerahasiaan
h. Meningkatkan pengendalian evalusi
penggunaan computer
Audit sistem informasi berbasis kendali merupakan suatu sistem yang mencegah, mendeteksi atau
memperbaiki kejadian yang tidak dibenarkan (unlawfulevents) seperti:
unautorized (tidak nyambung), innacurrete(kurang baik), incomplete(tidak
komplet/tidak sesuai), redundant(mubazir), ineffective, ineffeicient
event.tujuanya yaitu untuk mengurangi kesalahan yang mungkin terjadi dari
kejadian yang dibenarkan.
Berdasarkan standar manajemen yang dikeluarkan oleh Internasional Standar Organization (ISO)
yaitu ISO 9001-2000, penilaian kondisi sistem mutu mempunyai 4 skala yaitu:
P (Poor) yaitu sistem mutu praktis belum terbentuk. Disarankan untuk
meninjau ulang keseluruhan proses.
W (Weak) yaitu masih banyak elemen sistem manajemen mutu yang tidak
sesuai standar.
F (Fair) yaitu beberapa elemen sistem telah sesuai standar tetapi masih
ada yang belum sesuai bahkan tidak ada sama sekali.
S (Strong) yaitu Sebagian besar persyaratan ISO 9001-2000 telah dapat
dipenuhi oleh sistem.
B. Prinsip – prinsip Dasar Proses Audit SI
Audit dititik beratkan pada objek audit yang mempunyai peluang untuk
diperbaiki.
Prasyarat Penilaian terhadap kegiatan objek audit.
Pengungkapan dalam laporan adanya temuan-temuan yang bersifat positif.
Identifikasi individu yang bertanggung jawab terhadap
kekurangan-kekurangan yang terjadi.
Penentuan tindakan terhadap petugas yang seharusnya bertanggung jawab.
Pelanggaran hukum.
Penyelidikan dan pencegahan kecurangan.
( Sumber: https://www.scribd.com/document/485320590/Konsep-dasar-control-doc )
Konsep dasar kontrol dan audit sistem
informasi (SI) mencakup prinsip-prinsip, tujuan, dan metode yang digunakan
untuk memastikan keamanan, integritas, ketersediaan, dan keandalan sistem
informasi. Berikut adalah penjabaran lebih lanjut mengenai konsep dasar ini:
1. Kontrol Sistem Informasi (SI)
·
Definisi Kontrol SI: Kontrol SI adalah proses yang
dirancang dan diimplementasikan untuk melindungi aset informasi, memastikan
keandalan data, serta menjaga integritas dan ketersediaan sistem informasi.
·
Jenis Kontrol: Preventif, detektif, korektif.
·
Contoh Kontrol SI: Enkripsi data, kebijakan sandi,
kontrol akses, pemantauan kegiatan pengguna.
2. Tujuan Kontrol SI
·
Melindungi
aset informasi dari ancaman dan risiko.
·
Memastikan
integritas, ketersediaan, dan kerahasiaan data.
·
Meningkatkan
efisiensi operasional dan keandalan sistem.
3. Audit Sistem Informasi (SI)
·
Definisi Audit SI: Audit SI adalah proses independen
untuk mengevaluasi keamanan, integritas, dan efektivitas kontrol SI suatu
organisasi.
·
Tujuan Audit SI: Mengevaluasi kepatuhan, mengidentifikasi
kelemahan, memberikan rekomendasi perbaikan.
4. Standar dan Framework Audit SI
·
COBIT (Control Objectives for Information and Related
Technologies):
Framework yang menyediakan panduan untuk mengelola dan mengaudit kontrol SI.
·
ISO/IEC 27001: Standar internasional untuk manajemen
keamanan informasi.
·
COSO (Committee of Sponsoring Organizations of the
Treadway Commission)
Framework: Framework yang menyediakan pedoman tentang pengendalian internal.
5. Proses Audit Sistem Informasi
·
Perencanaan Audit: Penetapan tujuan, cakupan audit,
jadwal audit.
·
Pelaksanaan Audit: Pengumpulan bukti, pengujian
kontrol, wawancara, pengamatan langsung.
·
Evaluasi dan Pelaporan: Analisis temuan,
penyusunan laporan audit, rekomendasi perbaikan.
6. Tantangan dalam Kontrol dan
Audit SI
·
Kompleksitas
teknologi dan perubahan cepat dalam lingkungan IT.
·
Keterbatasan
sumber daya manusia dan keahlian dalam keamanan informasi.
·
Ancaman
siber yang terus berkembang dan kebutuhan akan respons yang cepat.
7. Manfaat dari Kontrol dan Audit
SI
·
Mengurangi
risiko keamanan informasi dan kerugian keuangan.
·
Mematuhi
peraturan dan standar keamanan yang berlaku.
·
Meningkatkan
kepercayaan pengguna dan pemangku kepentingan.
8. Praktek Terbaik dalam Kontrol
dan Audit SI
·
Penetapan
kebijakan keamanan yang jelas dan komprehensif.
·
Melakukan
pemantauan dan pembaruan secara teratur terhadap kontrol SI.
·
Mendorong
kesadaran keamanan informasi di seluruh organisasi.
9. Tanggung Jawab Etis dalam
Kontrol dan Audit SI
·
Menjaga
independensi, integritas, dan objektivitas sebagai auditor SI.
·
Menghormati
kerahasiaan dan privasi data yang ditemukan selama audit.
Keseluruhan, kontrol dan audit sistem
informasi merupakan aspek penting dalam manajemen keamanan informasi dan
perawatan sistem informasi secara keseluruhan dalam suatu organisasi. Dengan
menerapkan praktik terbaik dan mematuhi standar yang relevan, organisasi dapat
memastikan bahwa sistem informasi mereka terlindungi dengan baik dan beroperasi
secara efisien.
Poin Pokok Silabus Bahasan 4
Prinsip-Prinsip Dasar
Proses Audit SI
Prinsip-prinsip
dasar proses audit SI : Ada 5 prinsip audit SI, yaitu :
-
Ethical conduct : Berdasar pada profesionalisme, kejujuran, integritas,
kerahasiaan, dan kebijaksanaan.
-
Fair Presentation : Kewajiban melaporkan secara jujur dan akurat.
-
Due professional care : Implementasi dari kesungguhan dan pertimbangan yang
diberikan.
-
Independence
-
Evidence-base approach.
Adapun
proses-proses meng-audit, seperti :
-
Perencanaan Audit(Planning The Audite)
-
Pengujian Pengendalian(Test of Controls)
-
Pengujian Transaksi(Test of Transaction)
-
Pengujian Keseimbangan atau Keseluruhan Hasil(Tests of Balances or Overal
Result)
-
Penyelesaian/ Pengakhiran Audit(Completion of The Audit)
( Sumber: https://www.scribd.com/document/485320590/Konsep-dasar-control-doc )
Proses audit sistem informasi (SI)
melibatkan pemeriksaan dan evaluasi terhadap keamanan, integritas,
ketersediaan, dan kepatuhan sistem informasi suatu organisasi. Berikut adalah
beberapa prinsip dasar yang diperhatikan dalam proses audit sistem informasi:
1.
Kepatuhan (Compliance):
·
Prinsip
ini mengacu pada kesesuaian sistem informasi dengan kebijakan, prosedur,
standar, peraturan, dan perundang-undangan yang berlaku. Auditor sistem
informasi akan mengevaluasi apakah organisasi mematuhi semua persyaratan yang
relevan.
2.
Keandalan (Reliability):
·
Prinsip
ini menekankan pada keandalan dan integritas data dalam sistem informasi.
Auditor harus memastikan bahwa data yang disimpan, diproses, dan ditransmisikan
oleh sistem informasi terlindungi dari modifikasi yang tidak sah dan kehilangan
yang tidak disengaja.
3.
Kerahasiaan (Confidentiality):
·
Prinsip
kerahasiaan menekankan pentingnya melindungi informasi sensitif dari akses yang
tidak sah. Auditor harus memastikan bahwa kontrol akses yang memadai telah
diterapkan untuk melindungi informasi rahasia dari akses yang tidak sah.
4.
Integritas (Integrity):
·
Prinsip
integritas berkaitan dengan keotentikan dan keaslian informasi. Auditor harus
memverifikasi bahwa data tidak dimanipulasi atau dimodifikasi secara tidak sah
selama proses penyimpanan, pemindahan, atau pemrosesan.
5.
Ketersediaan (Availability):
·
Prinsip
ketersediaan mengacu pada ketersediaan layanan sistem informasi sesuai
kebutuhan. Auditor harus memastikan bahwa sistem informasi dapat diakses dan
digunakan oleh pengguna yang sah sesuai dengan kebutuhan bisnis.
6.
Akurasi (Accuracy):
·
Prinsip
akurasi menekankan pentingnya keakuratan informasi yang disajikan oleh sistem
informasi. Auditor harus memastikan bahwa data yang disajikan oleh sistem
informasi adalah tepat, terkini, dan relevan untuk kebutuhan organisasi.
7.
Autentikasi (Authentication):
·
Prinsip
autentikasi menekankan pentingnya mengonfirmasi identitas pengguna sebelum
memberikan akses ke sistem informasi. Auditor harus memeriksa apakah mekanisme
autentikasi yang memadai telah diterapkan untuk mencegah akses yang tidak sah.
8.
Otorisasi (Authorization):
·
Prinsip
otorisasi berkaitan dengan penentuan hak akses pengguna ke sistem informasi.
Auditor harus memastikan bahwa pengguna diberikan hak akses yang sesuai dengan
tanggung jawab dan pekerjaan mereka dalam organisasi.
Prinsip-prinsip ini membentuk dasar bagi
auditor sistem informasi dalam mengevaluasi
keefektifan kontrol internal,
mengidentifikasi kelemahan potensial, dan memberikan rekomendasi untuk
perbaikan. Penting bagi auditor untuk memahami dan menerapkan prinsip-prinsip
ini dengan cermat dalam proses audit sistem informasi.
Poin Pokok Silabus Bahasan 5
Standar dan Panduan
Audit SI
Panduan yang dipergunakan dalam Audit
Sistem Informasi di Indonesia adalah Standar Atestasi, dan aturan-aturan yang
dikeluarkan oleh organisasi profesi akuntansi (IAI di Indonesia, AICPA di USA,
atau CICA untuk Kanada), maupun yang lebih khusus lagi, yaitu dari ISACA atau
IIA. Model referensi sistem pengendalian intern (internal controls
model/framework) lazimnya adalah COBIT. Audit objectives dalam audit terhadap
IT governance (menurut COBIT adalah:
effectiveness, confidentiality, data integrity, availability, efficiency, dan
realibility). Karena yang diperiksa adalah tata-kelola Teknologi Informasi (IT
governance), maka yang diperiksa antara lain adalah Teknologi Informasi itu
sendiri. Karena itu istilah audit arround the computer dan audit through the
computer tidak relevan lagi di sini.
( Sumber: https://www.scribd.com/document/485320590/Konsep-dasar-control-doc )
Standar Audit SI ada 3, yaitu :
ISACA
ISACA adalah asosiasi global independen
dan nirlaba yang terlibat dalam pengembangan, adopsi, dan penggunaan
pengetahuan dan praktik sistem informasi ( SI ) yang diterima secara global.
Sebelumnya dikenal sebagai Asosiasi Audit dan Pengendalian Sistem Informasi,
ISACA sekarang hanya menggunakan akronimnya saja.
ISACA memberikan panduan, tolok ukur , dan
alat tata kelola untuk perusahaan yang menggunakan sistem informasi. ISACA juga
menjadi tuan rumah serangkaian konferensi internasional yang berfokus pada
topik teknis dan manajerial yang berkaitan dengan jaminan, pengendalian,
keamanan, dan tata kelola TI .
( Sumber: https://www.techtarget.com/searchcio/definition/ISACA )
COBIT
COBIT (Control Objectives for Information
and Related Technology) merupakan audit sistem informasi dan dasar pengendalian
yang dibuat oleh Information Systems Audit and Control Association (ISACA) dan
IT Governance Institute (ITGI) pada tahun 1992.
ISO 1799
ISO/IEC 17799 dikembangkan oleh The
International Organization for Standardization (ISO) dan The International
Electrotechnical Commission (IEC), dengan titel ”Information Technology - Code
of Practice for Information Security Management”. ISO/IEC 17799 dirilis pertama
kali pada bulan desember 2000. ISO/IEC 1799 bertujuan memperkuat 3 elemen dasar
keamanan informasi, yaitu
(1) Confidentiality, memastikan bahwa
informasi hanya dapat diakses oleh yang berhak.
(2) Integrity, menjaga akurasi dan
selesainya informasi dan metode pemrosesan.
(3) Availability, memastikan bahwa user
yang terotorisasi mendapatkan akses kepada informasi dan aset yang terhubung
dengannya ketika memerlukannya.
ISO/IEC 17799 terdiri dari 10 domain,
yaitu
(1) Security policy, memberikan panduan
dan masukan pengelolaan dalam meningkatkan keamanan informasi.
(2) Organizational security, memfasilitasi
pengelolaan keamanan informasi dalam organisasi.
(3) Asset Classification and control,
melakukan inventarisasi aset dan melindungi aset tersebut dengan efektif.
(4) Personnel security, meminimalisasi
resiko human error, pencurian, pemalsuan atau penggunaan peralatan yang tidak
selayaknya.
(5) Physical and environmental security,
menghindarkan violation, deterioration atau disruption dari data yang dimiliki.
(6) Communications and operations
management, memastikan penggunaan yang baik dan selayaknya dari alatalat
pemroses informasi.
(7) Access control, mengontrol akses
informasi.
(8) Systems development and maintenance,
memastikan bahwa keamanan telah terintegrasi dalam sistem informasi yang ada.
(9) Business continuity management,
meminimalkan dampak dari terhentinya proses bisnis dan melindungi proses-proses
perusahaan yang mendasar dari kegagalan dan kerusakan yang besar serta (10)
Compliance, menghindarkan terjadinya tindakan pelanggaran atas hukum,
kesepakatan atau kontrak, dan kebutuhan keamanan.
( Sumber: https://media.neliti.com/media/publications/166694-ID-tata-kelola-teknologi-informasi-it-gover.pdf )
Ada
beberapa standar dan panduan yang digunakan dalam audit sistem informasi (SI)
untuk memastikan keamanan, integritas, dan ketersediaan data. Berikut adalah
beberapa di antaranya:
1.
ISO/IEC 27001:
·
Standar
internasional untuk manajemen keamanan informasi.
·
Menyediakan
kerangka kerja yang komprehensif untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan
mengelola risiko keamanan informasi.
·
Menggambarkan
persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan sertifikasi ISO/IEC 27001.
2.
COBIT (Control Objectives for Information and Related
Technologies):
·
Kerangka
kerja yang dikembangkan oleh ISACA untuk manajemen dan audit TI.
·
Menyediakan
panduan tentang bagaimana mengelola dan mengaudit kontrol TI, termasuk kontrol
SI.
·
Memaparkan
kontrol yang terkait dengan tujuan bisnis dan proses TI.
3.
NIST SP 800-53:
·
Standar
keamanan yang diterbitkan oleh National Institute of Standards and Technology
(NIST) di Amerika Serikat.
·
Menyediakan
katalog kontrol keamanan yang dapat digunakan untuk mengelola dan mengaudit
keamanan SI dalam organisasi pemerintah dan swasta.
4.
ISACA IT Assurance Framework (ITAF):
·
Framework
yang dikembangkan oleh ISACA untuk membantu auditor dalam menilai dan
memberikan keyakinan terkait dengan pengelolaan risiko, keamanan, dan
pengendalian sistem informasi.
·
Memberikan
panduan tentang penilaian risiko, audit pengendalian, dan audit keamanan
informasi.
5.
COSO (Committee of Sponsoring Organizations of the
Treadway Commission) Framework:
·
Framework
yang menetapkan prinsip-prinsip dasar untuk pengendalian internal, termasuk
kontrol SI.
·
Menggambarkan
lima komponen pengendalian internal: lingkungan kontrol, penilaian risiko,
aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, pemantauan.
6.
PCI DSS (Payment Card Industry Data Security
Standard):
·
Standar
keamanan yang dikeluarkan oleh Payment Card Industry Security Standards Council
(PCI SSC) untuk organisasi yang memproses data kartu pembayaran.
·
Menetapkan
persyaratan keamanan yang ketat untuk melindungi data pembayaran dan kartu
kredit dari kebocoran atau penyalahgunaan.
7.
ITIL (Information Technology Infrastructure Library):
·
Kerangka
kerja best practice untuk manajemen layanan TI.
·
Menyediakan
panduan tentang bagaimana merencanakan, mengimplementasikan, dan mengelola
layanan TI dengan efisien dan efektif.
8.
Panduan COBIT (Control Objectives for Information and
Related Technologies):
·
Panduan
yang disediakan oleh ISACA yang menjelaskan bagaimana menggunakan kerangka
kerja COBIT untuk manajemen dan audit TI.
·
Menyediakan
panduan tentang bagaimana menerapkan kontrol SI dan mengevaluasi keamanan
informasi berdasarkan COBIT.
Mengikuti standar dan panduan ini membantu
organisasi dalam mengembangkan dan memelihara sistem informasi yang aman dan
andal, serta memfasilitasi proses audit yang efektif untuk memastikan kepatuhan
dan efektivitas kontrol SI.
Poin Pokok Silabus Bahasan 6
Kontrol Internal
Ruang Lingkup Kontrol Internal
Ø Audit Internal
Suatu fungsi penilai yang independen yang ditetapkan (estabilished)
dalam suatu organisasi untuk menguji dan mengevaluasi efektifitasnya sebagai
pelayanan kepada oraganisasi tersebut. Tujuannya adalah untuk membantu para
anggota organisasi tersebut dalam menjalankan kewajiban mereka secara efektif .
pada akhirnya audit internal memberikan pelayanan kepada mereka secara efektif.
Pada akhirnya audit internal memberikan pelayanan kepada mereka dalam bentuk
analisis, penilaian, rekomendasi, konseling, dan informasi yang berkaitan
dengan aktivitas-aktivitas yang dievaluasi” ( The Institue of Internal
Auditors, dalam Robertson, 1990) Menurut Robertson, audit operasional adalah
bagian dari audit internal.
Kontrol
internal adalah suatu proses yang dirancang dan dilaksanakan oleh manajemen dan
personel suatu organisasi untuk menyediakan keyakinan yang memadai mengenai
pencapaian tujuan-tujuan yang berikut:
1.
Efektivitas
dan efisiensi operasional.
2.
Keandalan
pelaporan keuangan.
3.
Kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ruang
lingkup kontrol internal mencakup segala kebijakan, prosedur, dan teknik yang
digunakan dalam menjalankan operasi organisasi. Ini mencakup tetapi tidak
terbatas pada:
1.
Pengendalian
Lingkungan: Ini berkaitan dengan atmosfer yang diciptakan oleh manajemen
organisasi yang berpengaruh terhadap efektivitas kontrol internal. Ini termasuk
etika, integritas, dan nilai-nilai yang ditanamkan oleh manajemen, serta
struktur organisasi dan pengelolaan sumber daya manusia.
2.
Penilaian
Risiko: Organisasi perlu secara teratur mengevaluasi risiko-risiko yang mungkin
mempengaruhi pencapaian tujuan-tujuan mereka. Penilaian risiko ini membantu
dalam menentukan di mana kontrol internal diperlukan dan seberapa kuat kontrol
tersebut harus dilaksanakan.
3.
Kegiatan
Pengendalian: Kegiatan-kegiatan ini mencakup semua kebijakan dan prosedur yang
dibuat untuk mengendalikan risiko-risiko yang telah diidentifikasi. Ini
termasuk kontrol-preventif, detektif, dan korektif yang dirancang untuk
meminimalkan risiko dan menjamin pencapaian tujuan-tujuan organisasi.
4.
Informasi
dan Komunikasi: Sistem informasi yang tepat adalah kunci untuk menjaga kontrol
internal yang efektif. Ini termasuk komunikasi yang efisien dari informasi
penting ke pihak-pihak yang relevan di dalam organisasi.
5.
Pemantauan:
Organisasi harus memiliki mekanisme pemantauan yang berkelanjutan untuk
memastikan bahwa kontrol internal beroperasi sesuai yang diharapkan. Pemantauan
ini bisa berupa audit internal, evaluasi kinerja, atau tindakan-tindakan lain
yang bertujuan untuk mengukur efektivitas dan kepatuhan terhadap kontrol
internal.
Dalam esensi, ruang lingkup kontrol
internal mencakup semua aspek operasional dan manajerial organisasi. Ini
bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai kepada manajemen dan pemangku
kepentingan eksternal bahwa tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai secara
efektif, efisien, dan sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Sumber-sumber
utama untuk informasi tentang ruang lingkup kontrol internal meliputi:
1.
Standar
Profesional: Contohnya COSO (Committee of Sponsoring Organizations of the
Treadway Commission) Framework, yang memberikan pedoman tentang pengendalian
internal untuk organisasi.
2.
Panduan
Regulasi: Regulator seperti Securities and Exchange Commission (SEC) di Amerika
Serikat atau Financial Conduct Authority (FCA) di Inggris seringkali
menerbitkan panduan dan persyaratan terkait kontrol internal bagi organisasi di
bawah yurisdiksinya.
3.
Praktik
Terbaik Industri: Industri sering memiliki standar dan pedoman sendiri yang
berkaitan dengan kontrol internal yang spesifik untuk jenis bisnis tertentu.
4.
Konsultan
dan Profesional: Organisasi sering mengandalkan konsultan internal atau
eksternal yang memiliki keahlian dalam audit, manajemen risiko, atau kepatuhan
untuk membantu mereka merancang dan mengevaluasi sistem kontrol internal
mereka.
5.
Literatur
Akademis: Banyak literatur akademis yang membahas konsep-konsep kontrol
internal dan menyediakan studi kasus serta penelitian terkini dalam bidang ini.
6.
Pengalaman
Praktis: Pengalaman langsung dari implementasi kontrol internal di dalam suatu
organisasi juga merupakan sumber penting dalam memahami ruang lingkup dan
efektivitas kontrol internal.
Sasaran
kontrol internal dikategorikan menjadi beberapa area sebagai berikut:
a.
Operations – efisisensi dan efektifitas operasi dalam mencapai sasaran bisnis
yang juga meliputi tujuan performansi dan keuntungan.
b.
Financial reporting – persiapan pelaporan anggaran finansial yang dapat
dipercaya.
c.
Compliance – pemenuhan hukum dan aturan yang dapat dipercaya.
