Selasa, 30 Maret 2021

Kesusastraan Era 80 : Mengulik kisahnya bersama balada dasawarsanya

 

mau kapanpun eranya, yang terkonsepsi tetep aja sama, yang ngebedainnya ya cuma jalan pikirannya aja.




Perkara Awal Kedatangan

Angkatan 80 lahir pada masa pemerintahan Soeharto era Orde Baru. Soeharto pada masa itu masih menduduki suatu jabatan di militer dan sebagai presiden Republik Indonesia, sehingga pemerintahannya sangat kokoh dengan perlindungan dari militer. Era Orde Baru mempunyai ciri yaitu semua keputusan berporos pada presiden dan hak bersuara sangat dibatasi. Ketika ada sebuah karya yang sifatnya dianggap provokasi, mengancam, melecehkan, menyinggung dan merugikan maka akan langsung ditindaklanjuti oleh Soeharto dengan segera. Contohnya adalah majalah Djaja yang terkenal waktu itu berhenti terbit, padahal majalah tersebut memuat masalah-masalah budaya bangsa dan kesenian Indonesia.

Sebab-sebab di atas tersebut menjadi dasar tentang tema yang dititikberatkan pada angkatan 80-an ini, yaitu tentang roman percintaan dan kisah kehidupan pada masa itu yang sifatnya tidak dianggap provokasi, mengancam, melecehkan, menyinggung dan merugikan. Tema roman percintaan dan kisah kehidupan ini pun didasari oleh kemajuan ekonomi dan hidup yang indah bagi masyarakat karena pada masa itu perekonomian di Indonesia sangat makmur sebelum krisis moneter pertengahan tahun 1997.

Periode 80-an lahir dari konsepsi improvisasi dalam penggarapan karya sastra menuju hasil dan bobot maksimal serta baru dari konsep yang menentang pada satu kehidupan. Para sastrawan mengikuti perkembangan jaman yang dituntut adanya keberanian dan kreativitas untuk berkarya. Banyak karya sastra yang dijadikan drama drama radio. Pada periode 80-an ini karya sastra film juga berkembang pesat. Perfilman Indonesia banyak ditonton dan diminati oleh masyarakat dan para sutradara pun aktif menciptakan film-film baru.

  

Latar Belakang

Pada era 80an sastra mencapai dinamika yang bergerak bersama masyarakat Indonesia untuk menuju kehidupannya yang baru dengan wawasan konstitusional. Sastra Angkatan 80-an berada di tengah lingkungan yang masyarakatnya mengalami depolitisasi yang nyaris total. Aktivitas-aktivitas politik mahasiswa ditertibkan dan mahasiswa sepenuhnya dijadikan organ kampus yang dilepaskan dari segala macam aktivitas politik. Politik stabilitas, security approach, normalisasi kehidupan kampus, dan asas tunggal merupakan lingkungan tempat para sastrawan era 80-an hidup. Majalah sastra hanya ada Horison dan Basis. Globalisasi dengan ekonomi sebagai panglima pusat dunia tidak lagi pada lembar-lembar diskursif sastrawi. Jargon-jargon politik yang hiruk-pikuk dan menakutkan telah berlalu. Mereka digantikan oleh jargon-jargon modisme yang meriah, kerlap kerlip, dan tidak terasa menakutkan. Ditambah lagi, terdapat ancaman pembredelan-pembredelan terhadap karya sastra dan faktor-faktor keamanan lainnya.


Ciri-ciri yang Terkuak

  • Sajak yang sering digunakan adalah dengan mengangkat tema tentang keuhanan dan mistikism
  • Karya sastra yang dihasilkan banyak mengangkat masalah dalam kehidupan sosial masyarakat yang memuat kritik, politik, dan budaya
  • Bahasa yang digunakan sangat realistis, yaitu bahasa yang sering ada dimasyarakat dan perkataan romantis
  • Menuntut hak asasi manusia, seperti kebebasan
  • Didominasi oleh roman percintaan

Tokoh-tokoh dari Era 80an
sastra angkatan 80an tidak mempunyai informasi yang jelas tentang siapa pelopornya. Namun, pada angkatan ini banyak sastrawan yang berperan penting dalam pekembangannya, diantaranya adalah Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja


Hasil Sebuah Karya Sastranya

Hilman Hariwijaya : Lupus-28 novel (1986-2007), Lupus kecil-13 novel (1989-2003)
Marga T : Istana di Kaki Langit, Petromarin, Waikiki Aloha
Ahmadun Yosi Herfanda : Ladang Hijau (1980), Sajak Penari (1990)
Y.B Magunwijaya : Burung-burung Manyar (1981)
Darman Moenir : Bako (1983), Dendang (1988)
Budi Darma : Olenka (1983), Rafilus (1988)
Dorothea Rosa Herliany : Nyanyian Teduh (1987), Matahari yang Mengalir (1990)
Gustaf Rizal : Segi empat Patah Sisi (1990), Segi Tiga Lepas Kaki (1991), Ben (1992)
Sindhunata : Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
Joko Pinurbo : Layang-layang (1980), Penyair Tardji (1986)


Kualitas Sastranya

Kelebihan 
-Memiliki wawasan estetik yang luas 
-Bertema tentang roman percintaan dan kisah kehidupan pun didasari oleh kemajuan ekonomi
-Menekan pada pemikiran dan cara penyampaian dalam karya sastra
-Periode 80an ini karya sastra film juga berkembang pesat

Kekurangan 
-Diwarnai aturan-aturan yang ketat dan dipengaruhi oleh kegiatan politik
-Karya sastra lahir pada tahun 80an dipengaruhi proses depolitasi
-Sastra yang muncul jadi tidak sesuai dengan realitas sosial politik serta tidak menunjukkan kegelisahan dan kesakitan kolektif masyarakat pada masa itu.


Perbedaan Puisi Era 80 dan Era Sekarang

Era 80 

LAYANG-LAYANG

Dulu pernah kaubelikan aku sebuah layang-layang
pada hari ulang tahun.
Aku pun bersorak sebagai kanak-kanak
tapi hanya sejenak.

Sebab layang-layang itu kemudian hilang,
entah ke mana ia terbang.
Seperti aku pun tak pernah tahu kapan kau hilang
dan kembali kutemu.
Lehermu masih hangat meskipun selalu dikikis waktu.

Sekarang umur pun tak pernah lagi dirayakan
selain dibasahkuyupkan di bawah hujan.
Tapi kutemukan juga layang-layang itu di sebuah dahan
meskipun tanpa benang dan tinggal robekan.
Aku ingin berteduh di bawah pohon yang rindang.
(1980)


Era Sekarang by Me

Kemunafikan Sang Perasa


Bertanya pada rembulan kisah apa yang akan terjadi selanjutnya

Hm namun sang rembulan pun tak mau menjawabnya

Dan malah merasa iba melihatnya bertahan

Ingin disudahi namun masi melingkar

Apa daya mental ini yang lembeknya kaya pisang 


Belum apa-apa overthinking melanda

Perasaan sedih turut ikut serta berdatangan

Cape ga si kamu jadi orang? 

Kayanya kamu memang perlu mantra untuk menduplikat diri

Karna percuma aja kalo sama, ceritanya sama lagi, kasusnya sama lagi, gitu aja terus sampe gatau kapan berentinya


Paradigmaku

Jadi, menurut pandangan aku ni ya, sastra muncul diera berapa pun tidak menjadi permasalahan besar yang harus diperdebatkan. Tapi dari beberapa era yang bermunculan tersebut itu akan menjadi satu keselarasan yang saling dapat menyempurnakan. Karya sastra pun tidak hanya berasal dari sebuah puisi, novel, drama, film, dan pantun tapi musik juga termasuk kedalam karya sastra. Musik sudah banyak diminati dari dulu, bahkan musik-musik yang muncul di era 80an masih lestari dan tergaungkan luarbiasanya di era sekarang karena mempunyai kekarakteristikan romansanya yang amat mendalam. Semoga sastra bisa terus berpanjang umur tanpa terkubur sia-sia, karena didaamnya juga terdapat hasil-hasil karya anak bangsa dan perjuangan yang besar untuk melewati hingga memulainya.


Referensi Berdasarkan Riset
https://prezi.com/zzmcyh91hgvk/sastra-angkatan-80-an/
https://slideplayer.info/slide/13311034/#:~:text=Angkatan%2080%2Dan%20lahir%20pada,berisi%20tentang%20politik%20dan%20kehidupan.
https://www.jendelasastra.com/dapur-sastra/belajar-menulis/kumpulan-puisi-joko-pinurbo-1980-1992

#masigentanyangan

#belomdibuat

#mikirseadanya
#bukancenayang
#ternyatabeginiyalelah

See You for the Next Soon!




Rabu, 24 Maret 2021

Paradigma 2 : Kebudayaan dan Kesusastraan

 bagai baju dan celana yang saling melengkapi, itulah bentuk kebudayaan dan kesusastraan.


Cakupan Budaya 




Ketika berbicara mengenai budaya. Budaya adalah sesuatu yang dapat menjadi ciri khas, tradisi atau bahkan sebagai pelengkap identitas dari suatu negara. Kita harus mau membuka pikiran untuk menerima banyak hal baru. Budaya bersifat kompleks, luas dan abstrak. Budaya tidak terrbatas pada seni yang seringkali dilihat dalam gedung kesenian atau tempat bersejarah, seperti museum. Tetapi budaya merupakan suatu pola hidup menyeluruh. Budaya mempunyai banyak aspek yang turut menentukan perilaku komunikatif. Beberapa orang bisa mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain. Hal ini dikarenakan budaya memiliki keistimewaannya sendiri. Budaya masyarakat satu berbeda dengan budaya masyarakat yang lainnya, sehingga seseorang harus bisa menyesuaikan perbedaan-perbedannya. Kebudayaan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

Ada banyak unsur yang membentuk budaya, termasuk behasa, adat istiadat, sistem agama dan politik, perkakas, pakaian, dan karya seni. Bahasa merupakan perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi, baik melalui lisan, ataupun gerakan. Salah satu hasil dari kebudayaan adalah sebuah karya sastra yang secara garis besar hasil dari setiap individu yang disampaikan dengan tidak terlepas dari kebudayaan.


Menguak Kesusastraan

   



Banyak orang yang tidak tahu bahwa tepat pada tanggal 3 juli diperingati oleh hari sastra Indonesia, ditanggal tersebut pula ternyata adalah hari lahir dari Abdoel Moeis. Beliau adalah seorang sastrawan yang aktif dalam pergerakan nasional di zaman Belanda. Secara umum sastrav merupakan kata serapan dari bahasa sanskerta sastra yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman". dari bkata sas yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Sastra dibagi dua yaitu sastra tulis dan sastra lisan. Dengan bahasa yang mudah dipahami sastra adalah hasil proses kreatrif manusia yangt menghasilkan karya dengan media bahasa yang memenbuhi unsur estetika atau keindahan.

Alat untuk menyampaikan sastra atau disebut Moda itu sebenarnya hanya dua yaitu Sahak dan Prosa, sedangkan genrenya adalah puisi, esai, fiksi, dan drama. Dengan berbagai genre sastra ini, kebudayaan yang mempunyai cakupan yang luas dan komnpleks dapat tercermin dalam karya sastra. Sastra merupakan pencerminan budaya suatu masyarakat. Karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu membri pengaruh terhadap masyarakat. Bahkan serungkali masyarakat sangat menentukan nilai karya sastra yang hidup disuatu zaman, sementara sastrawan sendiri adalah anggota masyarakat yang terikat status sosial tertentu dan tidak dapat mengelak dari adanya pengaruh yang diterimanya dari lingkungan yang membesarkan sekaligus membentuknya.


Hubungan Sastra dan Budaya




Sastra dan kebudayaan, baik secara definitif etimologis maupun secara praktis pragmatis, berhubungan erat. Kedua istilah berada dalam kelompok kata yang memberikan perhatian pada aspek rohaniah, sebagai pencerahan akal budi manusia. Apabila dalam perkembangan berikut sastra perlu diberi definisi yang lebih sempit, yaitu aktivitas manusia dalam bentuk yang indah, lebih khusus lagi bentuk dengan memanfaatkan bahasa, baik lisan maupun tulisan, tidak demikian halnya terhadap kebudayaan. Artinya, kebudayaan tetap memiliki ruang lingkup yang lebih luas, bahkan cenderung diberikan peluang untuk bertambah luas sebab aktivitas manusia bertambah luas dan beragam. sastra lebih dekat dengan peradaban dibandingkan dengan kebudayaan sebab sastra adalah nilai-nilai. Sebagai nilai-nilai, sastra juga merupakan bagian ilmu pengetahuan. Hubungan ini sangat jelas apabila dikaitkan dengan sastra sebagai ilmu, seperti kritik dan berbagai jenis penilaian sastra lainnya. Hubungan-hubungan di atas perlu ditelusuri dengan tujuan, pertama, seberapa jauh peranan sastra terhadap perkembangan kebudayaan, khusus-nya terhadap studi kultural. Kedua, seberapa jauh hubungan yang terjadi dapat meningkatkan kualitas pemahaman terhadap karya sastra itu sendiri, sebagai umpan balik perkembangan sastra selanjutnya.

Sastra dan kebudayaan, baik secara terpisah yaitu ‘sastra’ dan ‘kebudayaan’, maupun sebagai kesatuan selalu dikaitkan dengan nilai-nilai positif. Artinya, sastra dan kebudayaan, yang dengan sendirinya dihasilkan melalui aktivitas manusia itu sendiri, berfungsi untuk meningkatkan kehidupan. Karya sastra sebagai katharsis (Aristoteles) (Mukarovsky), lango (Zoetmulder) aktivitas manusia sebagai pencerahan (Abad Pertengahan) dan berbagai definisi sastra pada dasarnya menunjuk pada fungsi kemanusiaan seperti di atas. Kaitan erat antara sastra dan kebudayaan juga menyebabkan perguruan tinggi yang memiliki fakultas sastra, seperti Fakultas Sastra Universitas Udayana, mengubah namanya, yang semula bernama Fakultas Sastra menjadi Fakultas Sastra dan Kebudayaan. Sastra dan kebudayaan, termasuk seluruh aspek kehidupan yang mengandung unsur-unsur keindahan, memperoleh perhatian justru pada saat manusia didominasi oleh teknologi dunia sekuler, krisis ekonomi, politik, dan hukum.


Referensi Berdasarkan Riset

-https://medium.com/@arifinung/menguak-sastra-melestarikan-budaya-dfe022d1c64c

-https://pelitaku.sabda.org/pengaruh_budaya_nusantara_terhadap_sastra

-https://media.neliti.com/media/publications/235006-sastra-dan-budaya-9f18ccea.pdf


#IlmuBudayaDasar

  See You Soon for the Next!


Senin, 15 Maret 2021

Paradigma 1 : Manusia dan Kebudayaannya


yang terlihat belum tentu melegakan, maka dari itu, kenalilah. Sama halnya kaya kaitan manusia dengan budayanya, kadang terasa begitu asing, tapi ketika sudah dikulik lebih jauh lagi, itu akan menjadi sangat asik.


Ngobrolin Manusia



Manusia ya, hum kalo bicarain perkara manusia pasti ga akan ada ujungnya deh. Tau ga kenapa?, ya gitu variatif sekali. Setiap manusia pasti dateng dari cerita perjalanan masa lalunya masing-masing. Ada yang ngalamin kekecewaan berat, atau bahkan ada yang seneng-seneng aja. Kendati demikian, pasti seorang manusia berharap dimasa yang akan datang bakal jadi jauh lebih baik. Pada dasarnya manusia sudah mempunyai kodrat untuk saling membutuhkan satu sama lainnya, ya karena manusia adalah makhluk sosial, gabisa yang namanya idup sendiri. Se introvert introvertnya manusia, pasti dia butuh manusia lain untuk jadi tempat bersandarnya kala suka dan duka. Normalnya manusia itu ada 2 gender. Namun kalau dikulik lagi, sebenernya secara terang-terangan ada yang namanya binary gender dan waria yang sudah tersebar luas diberbagai negara. Selama tidak ada penyelewengan antar manusia, apapun itu gendernya gajadi masalah dan sah-sah aja untuk kelangsungan hidup. Selain gender, bahkan manusia punya banyak suku, agama, ras dan kepribadian yang sudah mendarah daging dari keluarga dan akhirnya terciptalah sebuah identitas diri yang harus dijaga sampai mati. Dilansir dari liputan6.com ada yang mengungkapkan pendapat tentang manusia, begini katanya :

"Tidak ada ciptaan Tuhan di dunia ini, yag berbudaya kecuali manusia." kata Muhadjir dalam sambutannya di Rakerkesnas 2020 di Kemayoran, Jakarta, ditulis Kamis (20/2/2020).

Muhadjir mengatakan, karena memiliki akal, maka manusia memiliki sebuah dunianya sendiri yang disebut mikrokosmos atau sering disebut jagat cilik atau alam kesadaran. Sementara, di luar manusia, terdapat alam raya atau sering disebut jagat gede atau makrokosmos.

Namun, meski namanya mikrokosmos, Muhadjir mengatakan alam diri manusia adalah suatu hal yang sangat luas dan tidak bisa dibayangkan ukurannya.

Akibat dari banyaknya kevariatifan manusia, dari situlah keunikan beserta sifat aslinya mulai dapat terlihat.  Manusia itu hebat, keren, dan tangguh loh. Coba deh tebak kenapa, ya bayangkan aja dari dulu sampai sekarang seringkali manusia ditimpal banyak pertanyaan yang sebenarnya itu sangat menyinggung perasaan, ga sesuai keadaan dan tempat serta terkesan memaksa. Contohnya kaya gini, dapet nilai berapa di sekolahnya?, lanjut kuliah ga nih?, udah dapet kerja dimana?, dapet penghasilan berapa setiap bulannya?, udah umur segini, gamau cari calon?. Cape bukan kalau ditiap harinya dapet asupan kaya gitu terus, tapi beruntungnya manusia punya mantranya sendiri untuk menghadapi itu semua,  meskipun tetap yang ada didalam hatinya adalah kesedihan dan banyak tanda tanya besar. Satu hal lagi mengenai manusia, terkadang manusia gampang untuk menjadi perasa, gampang untuk memberikan sinyal namun berat untuk menjadi peka dan melupakan.


Dihadapkan Kebudayaan

 


Menurutku kebudayaan adalah suatu tradisi atau bahkan sebagai pelengkap identitas dari suatu negara. Bahkan gini deh gacuma dari suatu negara aja, tapi terkadang dari setiap desa satu sama desa yang lainnya pasti punya kebudayaannya sendiri. Kebudayaan itu sangat banyak juga lingkupnya. dari mulai adat istiadat, tarian, berlagsungnya sebuah acara tertentu, maraknya teknologi yang berdatangan di era modern, baju yang dipakai, bahkan makanan dan lain sebagainya. 

Dikutip dari media gugel, menurut R. Linton, budaya merupakan keseluruhan dari sikap&pola perilaku serta pengetahuan yang merupakan suatu kebiasaan yang diwariskan & dimiliki oleh suatu anggota masyarakat tertentu. Sedangkan menurut Edward T. Hall budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya.


Keterkaitan antara Manusia dan Kebudayannya




Sebenarnya antara manusia dan kebudayaan itu sangat erat sakali kaitannya, dan bisa dibilang, manusia dan budaya itu gabisa jauh-jauh karena keduanya amat sangat saling membutuhkan. Ibarat kaya makan baso tapi gada garemnya, hambar banget kan?, nah gitu, sama halnya kaya manusia tanpa kebudayaannya begitupun sebaliknya, ya rasanya aneh dan kurang pas aja gitu identitas dikehidupannya. Skema kecil perannya kaya gini nih, jadi budaya adalah sesuatu yang sudah tumbuh di suatu daerah dengan beragam jenisnya. Nah kalo manusia itu adalah makhluk sosial yang membutuhkan identitas layak lebih dari sebuah nama. Maka dari itu, dengan adanya budaya, seorang manusia akan terasa terlengkapi identitasnya. Dengan sudah terasa terlengkapinya, manusia pun harus ikut serta dalam melestarikan dan menjaga budaya yang sudah ada agar tidak punah diterpa globalisasi dan kecanggihan zaman. 

Terkadang untuk melestarikan budaya dikalangan milenial hanyalah sebatas sebuah dusta dari omongan semata. Hayo kenapaa cobaa?,  karena raganya manusia, terutama dari kalangan milenial pasti cepet banget bergejolaknya untuk mau mengikuti trend yang sedang booming. Karena aku sendiri merasakannya, betapa sulit untuk menahan agar tidak mengikuti alur trend yang sedang berkembang. Mungkin contoh kecilnya kaya gini, biasanya tepat pada 21 april jatuh pada perayaan kartini, ditiap-tiap sekolah kadang ada yang mengadakan perayaannya. Umumnya pasti yang perempuan akan memakai kebaya dan yang laki-laki memakai baju koko. Nah, karena seiring berkembangnya zaman, kebaya yang tadinya kental dengan corak nuansa budaya, lambat laun tergantikan dengan model modern yang tidak memiliki makna apapun. Sayang sekali kan, hal yang simple aja bisa cepat tergantikan, gimana yang lebih besar dari itu? 

Dengan begitu maraknya sebuah trend yang sudah tersebar. Ada baiknya didalam diri manusia bisa tertanam rasa cinta pada budayanya. Iya ngerti banget pasti susah, tapi harus dicoba mulai dari sekarang pelan-pelan. Kalo ada niat pasti bakalan teriringi sama usaha yang udah dilakuin. Kita sebagai manusia juga harus bisa memfilter sebuah trend budaya, jangan sampai ketika mengikuti trend malah jadinya jatuh ke arah yang negatif. Semoga kebudayaan yang sudah ada bisa tetap lestari dan hidup berada ditangan manusia yang sebenanya memegang peran penting didalamnya.


Referensi berdasarkan riset

-https://www.liputan6.com/health/read/4183498/jelaskan-hubungan-antara-manusia-dan-budaya-  
  menko-muhadjir-gunakan-filosofi-kursi
-https://www.seputarpengetahuan.co.id/2020/03/pengertian-budaya.html


#I'mbackagain

#Pertamadi2021
   
    See You Soon For the Next!