Rabu, 24 Maret 2021

Paradigma 2 : Kebudayaan dan Kesusastraan

 bagai baju dan celana yang saling melengkapi, itulah bentuk kebudayaan dan kesusastraan.


Cakupan Budaya 




Ketika berbicara mengenai budaya. Budaya adalah sesuatu yang dapat menjadi ciri khas, tradisi atau bahkan sebagai pelengkap identitas dari suatu negara. Kita harus mau membuka pikiran untuk menerima banyak hal baru. Budaya bersifat kompleks, luas dan abstrak. Budaya tidak terrbatas pada seni yang seringkali dilihat dalam gedung kesenian atau tempat bersejarah, seperti museum. Tetapi budaya merupakan suatu pola hidup menyeluruh. Budaya mempunyai banyak aspek yang turut menentukan perilaku komunikatif. Beberapa orang bisa mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain. Hal ini dikarenakan budaya memiliki keistimewaannya sendiri. Budaya masyarakat satu berbeda dengan budaya masyarakat yang lainnya, sehingga seseorang harus bisa menyesuaikan perbedaan-perbedannya. Kebudayaan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

Ada banyak unsur yang membentuk budaya, termasuk behasa, adat istiadat, sistem agama dan politik, perkakas, pakaian, dan karya seni. Bahasa merupakan perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi, baik melalui lisan, ataupun gerakan. Salah satu hasil dari kebudayaan adalah sebuah karya sastra yang secara garis besar hasil dari setiap individu yang disampaikan dengan tidak terlepas dari kebudayaan.


Menguak Kesusastraan

   



Banyak orang yang tidak tahu bahwa tepat pada tanggal 3 juli diperingati oleh hari sastra Indonesia, ditanggal tersebut pula ternyata adalah hari lahir dari Abdoel Moeis. Beliau adalah seorang sastrawan yang aktif dalam pergerakan nasional di zaman Belanda. Secara umum sastrav merupakan kata serapan dari bahasa sanskerta sastra yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman". dari bkata sas yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Sastra dibagi dua yaitu sastra tulis dan sastra lisan. Dengan bahasa yang mudah dipahami sastra adalah hasil proses kreatrif manusia yangt menghasilkan karya dengan media bahasa yang memenbuhi unsur estetika atau keindahan.

Alat untuk menyampaikan sastra atau disebut Moda itu sebenarnya hanya dua yaitu Sahak dan Prosa, sedangkan genrenya adalah puisi, esai, fiksi, dan drama. Dengan berbagai genre sastra ini, kebudayaan yang mempunyai cakupan yang luas dan komnpleks dapat tercermin dalam karya sastra. Sastra merupakan pencerminan budaya suatu masyarakat. Karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu membri pengaruh terhadap masyarakat. Bahkan serungkali masyarakat sangat menentukan nilai karya sastra yang hidup disuatu zaman, sementara sastrawan sendiri adalah anggota masyarakat yang terikat status sosial tertentu dan tidak dapat mengelak dari adanya pengaruh yang diterimanya dari lingkungan yang membesarkan sekaligus membentuknya.


Hubungan Sastra dan Budaya




Sastra dan kebudayaan, baik secara definitif etimologis maupun secara praktis pragmatis, berhubungan erat. Kedua istilah berada dalam kelompok kata yang memberikan perhatian pada aspek rohaniah, sebagai pencerahan akal budi manusia. Apabila dalam perkembangan berikut sastra perlu diberi definisi yang lebih sempit, yaitu aktivitas manusia dalam bentuk yang indah, lebih khusus lagi bentuk dengan memanfaatkan bahasa, baik lisan maupun tulisan, tidak demikian halnya terhadap kebudayaan. Artinya, kebudayaan tetap memiliki ruang lingkup yang lebih luas, bahkan cenderung diberikan peluang untuk bertambah luas sebab aktivitas manusia bertambah luas dan beragam. sastra lebih dekat dengan peradaban dibandingkan dengan kebudayaan sebab sastra adalah nilai-nilai. Sebagai nilai-nilai, sastra juga merupakan bagian ilmu pengetahuan. Hubungan ini sangat jelas apabila dikaitkan dengan sastra sebagai ilmu, seperti kritik dan berbagai jenis penilaian sastra lainnya. Hubungan-hubungan di atas perlu ditelusuri dengan tujuan, pertama, seberapa jauh peranan sastra terhadap perkembangan kebudayaan, khusus-nya terhadap studi kultural. Kedua, seberapa jauh hubungan yang terjadi dapat meningkatkan kualitas pemahaman terhadap karya sastra itu sendiri, sebagai umpan balik perkembangan sastra selanjutnya.

Sastra dan kebudayaan, baik secara terpisah yaitu ‘sastra’ dan ‘kebudayaan’, maupun sebagai kesatuan selalu dikaitkan dengan nilai-nilai positif. Artinya, sastra dan kebudayaan, yang dengan sendirinya dihasilkan melalui aktivitas manusia itu sendiri, berfungsi untuk meningkatkan kehidupan. Karya sastra sebagai katharsis (Aristoteles) (Mukarovsky), lango (Zoetmulder) aktivitas manusia sebagai pencerahan (Abad Pertengahan) dan berbagai definisi sastra pada dasarnya menunjuk pada fungsi kemanusiaan seperti di atas. Kaitan erat antara sastra dan kebudayaan juga menyebabkan perguruan tinggi yang memiliki fakultas sastra, seperti Fakultas Sastra Universitas Udayana, mengubah namanya, yang semula bernama Fakultas Sastra menjadi Fakultas Sastra dan Kebudayaan. Sastra dan kebudayaan, termasuk seluruh aspek kehidupan yang mengandung unsur-unsur keindahan, memperoleh perhatian justru pada saat manusia didominasi oleh teknologi dunia sekuler, krisis ekonomi, politik, dan hukum.


Referensi Berdasarkan Riset

-https://medium.com/@arifinung/menguak-sastra-melestarikan-budaya-dfe022d1c64c

-https://pelitaku.sabda.org/pengaruh_budaya_nusantara_terhadap_sastra

-https://media.neliti.com/media/publications/235006-sastra-dan-budaya-9f18ccea.pdf


#IlmuBudayaDasar

  See You Soon for the Next!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar