Rabu, 17 April 2024

Resume Materi Silabus Audit Teknologi Sistem Informasi M11-M14

 

Resume Materi Silabus

Audit Teknologi Sistem Informasi M11-M14

 



 


Disusun oleh:

Nama          : Ayu Rizqy Utami

 NPM         : 10120213

 Kelas         : 4KA21

 Dosen Pengampu : Kurniawan B. Prianto S.Kom, S.H, M.M

Mata Kuliah: Audit Teknologi Informasi

 

         

SISTEM INFORMASI

UNIVERSITAS GUNADARMA

2024

 

 

 

 

Poin Pokok Silabus Bahasan 1

Boundary Control

 

Boundary Controls sering dikenal sebagai pengendalian perbatasan atau pengendalian akses. Ini adalah pengendalian yang membatasi akses ke sistem informasi dari luar dan memastikan bahwa hanya pengguna yang memiliki otorisasi yang tepat dapat masuk ke sistem. Beberapa ahli menyebutkan bahwa penerapan Boundary Controls seperti firewall, VPN, dan sistem autentikasi adalah hal yang esensial dalam memastikan keamanan sistem informasi.

Tujuan utama Boundary Controls adalah membatasi akses ke sistem informasi dan memastikan bahwa hanya pengguna yang memiliki otorisasi yang tepat dapat masuk ke sistem. Beberapa tujuan Boundary Controls lainnya adalah:

1. Menjaga integritas sistem: Boundary Controls membantu untuk mencegah akses yang tidak sah ke sistem dan memastikan bahwa hanya pengguna yang sah yang dapat mengakses data dan aplikasi yang ada.

2. Mencegah serangan dari luar: Boundary Controls membantu untuk mencegah serangan dari luar, seperti serangan malware, phishing, dan pencurian data.

3. Melindungi jaringan: Boundary Controls membantu untuk melindungi jaringan dari serangan yang berpotensi merusak dan memastikan bahwa jaringan tetap aman dan terlindungi.

4. Mencegah pemantauan dan pemerasan: Boundary Controls membantu untuk mencegah pemantauan dan pemerasan yang tidak sah, memastikan bahwa privasi pengguna tetap terlindungi.

5. Memastikan kompatibilitas dengan regulasi dan standar industri: Boundary Controls membantu untuk memastikan bahwa sistem informasi memenuhi regulasi dan standar industri yang berlaku.

Metode Boundary Controls meliputi berbagai teknik dan solusi untuk membatasi akses ke sistem informasi dan memastikan bahwa hanya pengguna yang memiliki otorisasi yang tepat yang dapat masuk. Beberapa metode Boundary Controls yang sering digunakan meliputi:

1. Firewall: Firewall adalah perangkat lunak atau perangkat keras yang bertindak sebagai barrier antara jaringan yang aman dan jaringan yang tidak aman. Firewall membatasi akses ke sistem informasi dan memblokir serangan yang berbahaya.

2. Autentikasi pengguna: Autentikasi pengguna adalah proses memverifikasi identitas pengguna sebelum mengakses sistem informasi. Ini melibatkan penggunaan password, token, kartu smartcard, atau metode lain untuk memastikan bahwa hanya pengguna yang sah yang dapat masuk.

3. Enkripsi data: Enkripsi data adalah proses mengubah informasi dari bentuk yang dapat dibaca menjadi bentuk yang tidak dapat dibaca tanpa kunci dekripsi. Enkripsi data membantu untuk mencegah serangan dan memastikan bahwa data tetap aman saat dikirimkan atau disimpan.

4. Virtual Private Network (VPN): VPN adalah jaringan yang memungkinkan pengguna untuk terhubung secara aman ke sistem informasi dari jarak jauh. VPN menggunakan enkripsi untuk memastikan bahwa komunikasi antara pengguna dan sistem informasi tetap aman.

5. Pembatasan akses: Pembatasan akses adalah proses membatasi akses ke sistem informasi hanya untuk pengguna yang memiliki otorisasi yang tepat. Ini melibatkan penggunaan akses role-based atau akses berdasarkan tugas untuk memastikan bahwa hanya pengguna yang memiliki hak akses yang tepat yang dapat mengakses data dan aplikasi yang ada.

 

Kombinasi Boundary Controls dan Input Controls merupakan teknik yang efektif untuk melindungi sistem informasi dari serangan dan memastikan bahwa data yang diterima valid dan dapat dipercaya. Boundary Controls digunakan untuk membatasi akses ke sistem informasi dan membatasi interaksi dengan sistem, sedangkan Input Controls digunakan untuk memvalidasi dan memfilter input yang masuk ke sistem. Beberapa contoh kombinasi Boundary Controls dan Input Controls meliputi:

1. Input Validation dan Filter Input: Input Validation digunakan untuk memverifikasi bahwa data yang dimasukkan sesuai dengan format dan kriteria yang ditentukan, sementara Filter Input digunakan untuk memfilter data terhadap daftar kata atau karakter yang tidak aman.

2. Firewall dan Sanitasi Input: Firewall digunakan untuk membatasi akses ke sistem informasi dan memfilter paket yang masuk, sementara Sanitasi Input digunakan untuk membersihkan data yang dimasukkan sebelum disimpan ke sistem informasi.

3. Pembatasan Ukuran Input dan Pembatasan Format Input: Pembatasan Ukuran Input digunakan untuk membatasi jumlah data yang diterima oleh sistem informasi, sementara Pembatasan Format Input digunakan untuk memastikan bahwa data yang diterima sesuai dengan format yang ditentukan.

 

Tidak menerapkan Boundary Controls dan Input Controls dapat memiliki konsekuensi serius bagi keamanan sistem informasi. Berikut adalah beberapa konsekuensi yang mungkin terjadi: 1. Serangan Keamanan: Sistem informasi yang tidak dilindungi oleh Boundary Controls dan Input Controls rentan terhadap serangan keamanan seperti SQL Injection, Cross-Site Scripting (XSS), dan Remote Code Execution (RCE).

2. Data Tidak Valid: Input yang tidak valid dapat menyebabkan masalah integritas data dan kinerja sistem.

3. Kehilangan Data: Data yang tidak divalidasi dan tidak diterima oleh sistem informasi dapat hilang atau rusak.

4. Keamanan Informasi Terganggu: Informasi sensitif atau pribadi dapat terbocor atau dicuri jika sistem tidak dilindungi oleh Boundary Controls dan Input Controls.

5. Kerugian Keuangan: Serangan keamanan dapat mengakibatkan kerugian finansial melalui pembayaran ganti rugi, pemulihan data, dan pemulihan reputasi.

6. Kerugian Reputasi: Sistem yang tidak terlindungi dan tidak aman dapat menurunkan reputasi perusahaan dan mengurangi kepercayaan konsumen.

Boundary Controls dan Input Controls adalah dua komponen penting dari strategi keamanan informasi yang dapat membantu melindungi sistem informasi dari serangan dan memastikan bahwa data yang diterima valid dan dapat dipercaya. Boundary Controls membatasi akses ke sistem informasi dan membatasi interaksi dengan sistem, sementara Input Controls memvalidasi dan memfilter input yang masuk ke sistem. Kombinasi Boundary Controls dan Input Controls dapat membantu memastikan bahwa sistem informasi terlindungi dari serangan dan bahwa data yang diterima valid dan dapat dipercaya.

Sumber:https://www.studocu.com/id/document/universitas-nusa-cendana/sistem-informasi/boundary-control-dan-input-control/49519353

 

a. Cryptographic control

Ø  Transposition ciphers: menggunakan permutasi urutan karakter dari sederet string

Ø  Subtitution ciphers: mengganti karakter dengan karakter lain sesuai aturan tertentu

Ø  Product ciphers: kombinasi transposition dan subtitution ciphers

 

b.Access control

Ø  Acccess controls yang digunakan dan kemungkinan masalahnya

Ø  Ukuran proteksi yang ditekankan pada mekanisme access controls

Ø  Apakah organisasi menggunakan access controls yang disediakan dalam paket perangkat lunak

 

c. Personal Identification Numbers (PIN)

Ø  Generasi PIN

Ø  Penerbitan dan penyampaian PIN kepada pengguna

Ø  Validasi PIN

Ø  Transmisi PIN di seluruh jalur komunikasi

Ø  Pemrosesan PIN

Ø  Penyimpanan PIN

Ø  Perubahan PIN

Ø  Penggantian PIN

Ø  Penghentian PIN

 

d. Digital signature

Pengujian sistem manajemen yang digunakan untuk mengelola tanda tangan digital, penggunaan dan penyebarannya

 

e. Plastic cards

Ø  Pengajuan kartu

Ø  Persiapan kartu

Ø  Penerbitan kartu

Ø  Penggunaan kartu

Ø  Pengembalian/ penghancuran kartu

Sumber: https://faizulhamdi.wordpress.com/2013/10/28/application-control-framework/

 

Poin Pokok Silabus Bahasan 2

Input Control

 

Input Controls, seperti yang dikenal oleh beberapa ahli, adalah pengendalian yang diterapkan pada input data yang masuk ke sistem. Ini meliputi pemeriksaan virus, filter konten, dan pemeriksaan validitas data. Ahli menyatakan bahwa Input Controls memainkan peran penting dalam memastikan bahwa data yang masuk ke sistem tidak merusak atau membahayakan sistem.

Tujuan utama Input Controls adalah memastikan bahwa data yang masuk ke sistem informasi aman dan tidak merusak. Beberapa tujuan Input Controls lainnya adalah:

1. Mencegah serangan malware: Input Controls membantu untuk mencegah serangan malware, seperti virus dan Trojan, yang dapat merusak sistem dan data.

2. Memastikan validitas data: Input Controls membantu untuk memastikan bahwa data yang masuk ke sistem informasi valid dan memenuhi standar yang ditentukan.

3. Melindungi privasi pengguna: Input Controls membantu untuk melindungi privasi pengguna dengan mencegah data pribadi yang tidak sah masuk ke sistem. 

4. Memastikan integritas data: Input Controls membantu untuk memastikan bahwa data yang masuk ke sistem informasi tetap integritas dan tidak terpengaruh oleh serangan atau ancaman lain.

5. Mencegah masuknya konten yang tidak sesuai: Input Controls membantu untuk mencegah masuknya konten yang tidak sesuai, seperti spam atau materi yang tidak sesuai, ke sistem informasi.

 

Metode Input Controls meliputi berbagai teknik dan solusi untuk memvalidasi dan memfilter input yang masuk ke sistem informasi untuk mencegah serangan dan memastikan bahwa data yang diterima valid dan dapat dipercaya. Beberapa metode Input Controls yang sering digunakan meliputi:

1. Input Validation: Input validation adalah proses memverifikasi bahwa data yang dimasukkan ke sistem informasi sesuai dengan format dan kriteria yang ditentukan. Input validation membantu mencegah serangan seperti injeksi SQL atau injeksi kode.

2. Sanitasi input: Sanitasi input adalah proses membersihkan data yang dimasukkan sebelum disimpan ke sistem informasi. Ini melibatkan penghapusan karakter atau string yang tidak aman, seperti tag HTML atau karakter khusus.

3. Filter input: Filter input adalah proses memfilter data yang dimasukkan sebelum disimpan ke sistem informasi. Ini melibatkan pengecekan data terhadap daftar kata yang tidak aman atau daftar karakter yang tidak aman.

4. Pembatasan ukuran input: Pembatasan ukuran input adalah proses membatasi jumlah data yang diterima oleh sistem informasi. Ini membantu mencegah serangan seperti buffer overflow.

5. Pembatasan format input: Pembatasan format input adalah proses membatasi format data yang diterima oleh sistem informasi. Ini memastikan bahwa data yang diterima sesuai dengan format yang ditentukan dan membantu mencegah serangan seperti injeksi kode.

Kombinasi Boundary Controls dan Input Controls merupakan teknik yang efektif untuk melindungi sistem informasi dari serangan dan memastikan bahwa data yang diterima valid dan dapat dipercaya. Boundary Controls digunakan untuk membatasi akses ke sistem informasi dan membatasi interaksi dengan sistem, sedangkan Input Controls digunakan untuk memvalidasi dan memfilter input yang masuk ke sistem. Beberapa contoh kombinasi Boundary Controls dan Input Controls meliputi:

1. Input Validation dan Filter Input: Input Validation digunakan untuk memverifikasi bahwa data yang dimasukkan sesuai dengan format dan kriteria yang ditentukan, sementara Filter Input digunakan untuk memfilter data terhadap daftar kata atau karakter yang tidak aman.

2. Firewall dan Sanitasi Input: Firewall digunakan untuk membatasi akses ke sistem informasi dan memfilter paket yang masuk, sementara Sanitasi Input digunakan untuk membersihkan data yang dimasukkan sebelum disimpan ke sistem informasi.

3. Pembatasan Ukuran Input dan Pembatasan Format Input: Pembatasan Ukuran Input digunakan untuk membatasi jumlah data yang diterima oleh sistem informasi, sementara Pembatasan Format Input digunakan untuk memastikan bahwa data yang diterima sesuai dengan format yang ditentukan.

 

Tidak menerapkan Boundary Controls dan Input Controls dapat memiliki konsekuensi serius bagi keamanan sistem informasi. Berikut adalah beberapa konsekuensi yang mungkin terjadi: 1. Serangan Keamanan: Sistem informasi yang tidak dilindungi oleh Boundary Controls dan Input Controls rentan terhadap serangan keamanan seperti SQL Injection, Cross-Site Scripting (XSS), dan Remote Code Execution (RCE).

2. Data Tidak Valid: Input yang tidak valid dapat menyebabkan masalah integritas data dan kinerja sistem.

3. Kehilangan Data: Data yang tidak divalidasi dan tidak diterima oleh sistem informasi dapat hilang atau rusak.

4. Keamanan Informasi Terganggu: Informasi sensitif atau pribadi dapat terbocor atau dicuri jika sistem tidak dilindungi oleh Boundary Controls dan Input Controls.

5. Kerugian Keuangan: Serangan keamanan dapat mengakibatkan kerugian finansial melalui pembayaran ganti rugi, pemulihan data, dan pemulihan reputasi.

6. Kerugian Reputasi: Sistem yang tidak terlindungi dan tidak aman dapat menurunkan reputasi perusahaan dan mengurangi kepercayaan konsumen.

Boundary Controls dan Input Controls adalah dua komponen penting dari strategi keamanan informasi yang dapat membantu melindungi sistem informasi dari serangan dan memastikan bahwa data yang diterima valid dan dapat dipercaya. Boundary Controls membatasi akses ke sistem informasi dan membatasi interaksi dengan sistem, sementara Input Controls memvalidasi dan memfilter input yang masuk ke sistem. Kombinasi Boundary Controls dan Input Controls dapat membantu memastikan bahwa sistem informasi terlindungi dari serangan dan bahwa data yang diterima valid dan dapat dipercaya.

Sumber:https://www.studocu.com/id/document/universitas-nusa-cendana/sistem-informasi/boundary-control-dan-input-control/49519353

1.      Semakin banyak intervensi manusia dalam metode input data, kemungkinan munculnya kesalahan semakin besar.

2.      Semakin besar jarak waktu antara deteksi adanya kejadian dengan input dari kejadian tersebut, kemungkinan munculnya kesalahan semakin tinggi.

3.      Tipe perangkat input tertentu dapat digunakan untuk memfasilitasi kontrol dalam subsistem input.

Sumber: https://faizulhamdi.wordpress.com/2013/10/28/application-control-framework/

 

Poin Pokok Silabus Bahasan 3

Communication Control

 

Communication Control Framework (CCF) adalah sebuah kerangka kerja yang digunakan untuk mengelola dan mengendalikan komunikasi dalam organisasi. CCF membantu organisasi untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi komunikasi mereka secara efektif dan efisien.

 

Tujuan utama CCF adalah untuk:

Ø  Meningkatkan efektivitas komunikasi

Ø  Memastikan konsistensi pesan

Ø  Mengurangi risiko miskomunikasi

Ø  Memperkuat reputasi organisasi

Ø  Meningkatkan ROI dari kegiatan komunikasi

 

Komponen

CCF umumnya terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu:

Perencanaan: Menetapkan tujuan komunikasi, target audiens, pesan utama, dan saluran komunikasi.

Pelaksanaan: Mengembangkan dan menyebarkan materi komunikasi, memantau dan mengelola saluran komunikasi, dan berinteraksi dengan target audiens.

Evaluasi: Mengukur efektivitas komunikasi dan membuat penyesuaian yang diperlukan.

 

Manfaat

Manfaat menggunakan CCF antara lain:

Ø  Peningkatan komunikasi yang terarah dan terukur

Ø  Pengurangan risiko miskomunikasi dan kebingungan

Ø  Peningkatan konsistensi pesan dan citra merek

Ø  Peningkatan ROI dari kegiatan komunikasi

Ø  Peningkatan hubungan dengan pemangku kepentingan

Sumber: https://project-management-knowledge.com/definitions/c/control-communications/

Contoh Penerapan

Berikut adalah beberapa contoh penerapan CCF dalam berbagai organisasi:

Ø  Organisasi nirlaba: Menggunakan CCF untuk meningkatkan kesadaran publik tentang masalah sosial dan mendorong partisipasi dalam program mereka.

Ø  Perusahaan: Menggunakan CCF untuk membangun hubungan pelanggan yang kuat dan mempromosikan produk atau layanan mereka.

Ø  Lembaga pemerintah: Menggunakan CCF untuk menginformasikan publik tentang kebijakan dan program pemerintah.

Sumber: https://www.mindtools.com/cawh8bu/communication-skills

  • Passive attacks (Membaca pesan, Analisis trafik)
  • Active attacks
    • Menyisipkan pesan
    • Menghapus pesan
    • Modifikasi pesan
    • Mengubah urutan pesan
    • Duplikasi pesan
    • Membuat pesan corrupt
    • Spamming

 

Yang perlu diperhatikan oleh auditor :

1.      Physical component control

2.      Line error control

3.      Flow control

4.      Link control

5.      Topological control

6.      Channel access control

7.      Internetworking control

8.      Communication architecture control

Sumber: https://faizulhamdi.wordpress.com/2013/10/28/application-control-framework/

 

 

Poin Pokok Silabus Bahasan 4

Processing Control

Processing Control Framework (PCF) adalah sebuah kerangka kerja yang digunakan untuk mengelola dan mengendalikan proses dalam organisasi. PCF membantu organisasi untuk merancang, mengimplementasikan, dan memantau proses mereka secara efektif dan efisien.

 

Tujuan

Tujuan utama PCF adalah untuk:

  • Meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses
  • Memastikan kualitas produk dan layanan
  • Mengurangi risiko kegagalan proses
  • Meningkatkan kepuasan pelanggan
  • Menurunkan biaya

Komponen

PCF umumnya terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu:

  • Perencanaan: Menetapkan tujuan proses, identifikasi pemangku kepentingan, dan pengembangan dokumentasi proses.
  • Desain: Memilih alat dan metode yang tepat untuk proses, merancang alur kerja, dan menetapkan indikator kinerja utama (KPI).
  • Implementasi: Melatih staf, menerapkan proses, dan memantau kinerja proses.
  • Pengendalian: Mengidentifikasi dan menangani masalah proses, membuat penyesuaian yang diperlukan, dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan.
  • Peningkatan berkelanjutan: Secara terus menerus mengevaluasi dan meningkatkan proses.

Manfaat

Manfaat menggunakan PCF antara lain:

  • Peningkatan proses yang terarah dan terukur
  • Pengurangan risiko kegagalan proses
  • Peningkatan kualitas produk dan layanan
  • Peningkatan kepuasan pelanggan
  • Penurunan biaya
  • Peningkatan ROI dari kegiatan proses

 

 

Contoh Penerapan

 

Berikut adalah beberapa contoh penerapan PCF dalam berbagai organisasi:

Ø  Manufaktur: Menggunakan PCF untuk memastikan kualitas produk dan meningkatkan efisiensi produksi.

Ø  Layanan keuangan: Menggunakan PCF untuk meningkatkan akurasi pemrosesan transaksi dan mengurangi risiko penipuan.

Ø  Perawatan kesehatan: Menggunakan PCF untuk meningkatkan keselamatan pasien dan meningkatkan kualitas perawatan

Sumber: https://www.apqc.org/process-classification-framework

 

a. Processor control

Tipe-tipe kontrol:

  • Deteksi dan koreksi kesalahan
  • Kemungkinan terjadinya beberapa status eksekusi yang sama
  • Penentuan batas waktu eksekusi, untuk menghindari infinite loop
  • Replikasi komponen, berupa struktur multicomputer maupun multiprocessor

b. Real memory control

Kontrol terhadap real memory berupaya untuk:

  • Mendeteksi dan memperbaiki kesalahan pada sel-sel memori
  • Melindungi area memori yang berkaitan dengan sebuah program dari akses ilegal oleh program lain

c. Virtual memory control

Dua tipe kontrol yang harus dievaluasi:

  • Saat sebuah proses mengacu lokasi pada virtual memorydisplacement harus dipastikan berada dalam block
  • Harus dilakukan pengecekan priviledge saat sebuah proses mengakses block tertentu.

d. Integritas OS

Kontrol OS yang handal:

  • OS harus terlindungi dari proses-proses pengguna
  • Pengguna harus terlindungi satu sama lain
  • Pengguna harus dilindungi dari dirinya sendiri
  • OS harus terlindungi dari dirinya sendiri
  • Saat terjadi kegagalan lingkungan, OS harus kuat

e. Aplication software control

  • Pengecekan validasi serta identifikasi kesalahan
  • Pencegahan kesalahan pemrosesan

f. Audit trial control

  • Accounting audit trail

Dilakukan dengan menelusuri proses yang dilalui oleh data berdasarkan identifikasi proses

  • Operational audit trail

Meliputi data konsumsi sumber daya, penelusuran kejadian yang terkait keamanan, kegagalan fungsi perangkat keras, serta kejadian khusus yang ditentukan oleh pengguna.

g. Audit checkpoint

Auditor mengevaluasi:

  1. Informasi checkpoint/ restart yang tertulis dalam log harus aman
  2. Fasilitas checkpoint/ restart harus efektif dan efisien
  3. Fasilitas checkpoint/ restart harus terdokumentasi dengan baik
  4. Fasilitas checkpoint/ restart harus handal

Sumber: https://faizulhamdi.wordpress.com/2013/10/28/application-control-framework/

 

.

Poin Pokok Silabus Bahasan 5

Database Control

Database control adalah proses mengelola dan mengendalikan akses ke data dalam database. Hal ini mencakup berbagai aktivitas, seperti:

  • Manajemen pengguna dan hak akses: Menetapkan siapa yang dapat mengakses database, data apa yang dapat mereka akses, dan apa yang dapat mereka lakukan dengan data tersebut.
  • Keamanan data: Melindungi data dari akses yang tidak sah, penggunaan yang tidak sah, dan kerusakan.
  • Ketersediaan data: Memastikan bahwa data tersedia untuk pengguna yang sah saat mereka membutuhkannya.
  • Integritas data: Memastikan bahwa data akurat, konsisten, dan andal.
  • Performa data: Mengoptimalkan kinerja database untuk memastikan bahwa data dapat diakses dan diproses dengan cepat dan efisien.

Tujuan

Tujuan utama database control adalah untuk:

  • Melindungi data dari akses yang tidak sah, penggunaan yang tidak sah, dan kerusakan.
  • Memastikan bahwa data tersedia untuk pengguna yang sah saat mereka membutuhkannya.
  • Menjaga integritas data agar tetap akurat, konsisten, dan andal.
  • Meningkatkan performa database untuk memastikan bahwa data dapat diakses dan diproses dengan cepat dan efisien.
  • Memenuhi persyaratan kepatuhan peraturan.

Metode

Ada berbagai metode yang dapat digunakan untuk mengontrol database, di antaranya:

  • Kontrol akses berbasis peran (RBAC): Menetapkan peran pengguna dan mengaitkan izin dengan peran tersebut. Pengguna hanya dapat mengakses data dan melakukan tindakan yang diizinkan oleh peran mereka.
  • Daftar kontrol akses (ACL): Menetapkan izin secara eksplisit untuk setiap pengguna atau grup pengguna untuk mengakses objek database tertentu.
  • Enkripsi: Mengenkripsi data saat disimpan dan saat ditransmisikan untuk mencegah akses yang tidak sah.
  • Firewall: Memblokir akses yang tidak sah ke database dari jaringan eksternal.
  • Audit: Melacak aktivitas pengguna di database untuk mendeteksi aktivitas yang mencurigakan.

Alat

Ada berbagai alat yang tersedia untuk membantu mengontrol database, di antaranya:

  • Sistem manajemen basis data (DBMS): Kebanyakan DBMS memiliki fitur kontrol akses dan keamanan bawaan.
  • Perangkat lunak kontrol akses khusus: Ada banyak perangkat lunak kontrol akses khusus yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengontrol akses ke database.
  • Alat audit: Ada banyak alat audit yang tersedia yang dapat digunakan untuk melacak aktivitas pengguna di database.

Sumber: https://www.ibm.com/topics/database-security

 

a. Access control

  • Discretionary access controls
    • Dengan membatasi berdasarkan nama, konten, konteks, atau sejarah akses
    • Mandatory access controls
      • Dilakukan berdasarkan pengelompokan level sumber daya dan level pengguna.

b. Integrity control

  • ER model integrity constraints

Uniqueness, min&max cardinality, entity ID, value type&set of ID

  • Relational data model integrity constraints

Key, entity and referential constraints

  • Object data model integrity constraints

Unique ID&key, value type&set of attribute, tipes and inheritance

c. Application software control

  • Update protocols

Memastikan bahwa perubahan pada basis data menggambarkan perubahan entitas nyata dan asosiasi antar entitas

  • Report protocols

Menyediakan informasi bagi pengguna basis data yang memungkinkan identifikasi kesalahan yang muncul saat update basis data

d. Concurrency control

memungkinkan pengguna basis data berbagi sumber daya yang sama

e. Cryptographic control

melindungi integritas data yang disimpan dalam basis data

f. Audit trail control

  • Accounting audit trail

Subsistem basis data harus menjalankan tiga fungsi:

  • Seluruh transaksi harus memiliki unique time stamp
  • Subsistem harus mencatat beforeimages dan afterimages dari data sebelum dan sesudah transaksi
  • Subsistem harus menyediakan fasilitas untuk define, create, modify, delete, dan retrieve data pada audit trail
    • Operational audit trail
    • Mengelola kronologi kejadian penggunaan sumber daya yang mempengaruhi basis data

g. Existence control

Sumber: https://faizulhamdi.wordpress.com/2013/10/28/application-control-framework/

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar