Kamis, 21 Maret 2024

Resume Materi Silabus Audit Teknologi Sistem Informasi M1-M5

 

Resume Materi Silabus 

Audit Teknologi Sistem Informasi M1-M5

 


 

Disusun oleh:

Nama          : Ayu Rizqy Utami

 NPM         : 10120213

 Kelas         : 4KA21

 Dosen Pengampu : Kurniawan B. Prianto S.Kom, S.H, M.M

Mata Kuliah: Audit Teknologi Informasi

 

         

SISTEM INFORMASI

UNIVERSITAS GUNADARMA

2024

 

 

 

 

Poin Pokok Silabus Bahasan 1

Definisi Kontrol dan Audit Sistem Informasi

 

Kontrol sistem informasi merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari pengelolaan sistem informasi, bahkan melaksanakan fungsi yang sangat penting karena mengamati setiap tahapan daam proses pengelolaan informasi. Ada beberapa ketrampilan untuk mengelola kontrol sistem informasi, yaitu ;

1.      Kemampuan mengontrol kegiatan perencanaan informasi

2.      Kemampuan mengontrol proses transformasi informasi

3.      Kemampuan mengontrol organisasi pelaksana sistem informasi

4.      Kemampuan kegiatan koordinasi

Dengan kemampuan-kemapuan itu, maka terjamin kelancaran pelaksanaan pengelolaan sistem informasi Pengendalian sistem informasi adalah keseluruhan kegiatan dalam bentuk mengamati, membina, dan mengawasi pelaksanaan mekanisme pengelolaan sistem informasi, khususnya dalam fungsi-fungsi perencanaan informasi, transformasi, organisasi, dan koordinasi.

Ø  Kontrol Terhadap Pengoperasian Sistem

Kontrol pengoperasian sistem dimaksudkan untuk mencapai efisiensi dan keamanan. Kontrol yang memberikan kontribusi terhadap tujuan ini dapat diklasifikasikan menjadi 5 area :

1.      Struktur organisasional

Staf pelayanan informasi diorganisir menurut bidang spesialisasi. Analisis, Programmer, dan Personel operasi biasanya dipisahkan dan hanya mengembangkan ketrampilan yang diperlukan untuk area pekerjaannya sendiri.

2.      Kontrol perpustakaan

Perpustakaan komputer adalah sama dengan perpustakaan buku, dimana didalamnya ada pustakawan, pengumpulan media, area tempat penyimpanan media dan prosedur untuk menggunakan media tersebut. Yang boleh mengakses perpustakaan media hanyalah pustakawannya.

3.      Pemeliharaan Peralatan

Orang yang tugasnya memperbaiki computer yang disebut Customer Engineer (CE) / Field Engineer (FE) / Teknisi Lapangan menjalankan pemeliharaan yang terjadwal / yang tak terjadwal.

4.      Kontrol lingkungan dan keamanan fasilitas

Untuk menjaga investasi dibutuhkan kondisi lingkungan yang khusus seperti ruang computer harus bersih keamanan fasilitas yang harus dilakukan dengan penguncian ruang peralatan dan komputer.

5.      Perencanaan disaster

a.       Rencana Keadaan darurat

Prioritas utamanya adalah keselamatan tenaga kerja perusahaan

b.      Rencana Backup

Menjelaskan bagaimana perusahaan dapat melanjutkan operasinya dari ketika terjadi bencana sampai ia kembali beroperasi secara normal.

c.       Rencana Record Penting

Rencana ini mengidentifikasi file data penting & menentukan tempat penyimpanan kopi duplikat.

d.      Rencana Recovery

Rencana ini mengidentifikan sumber-sumber peralatan pengganti, fasilitas komunikasi da pasokan-pasokan.

( Sumber: https://www.academia.edu/17946337/Pengendalian_sistem_informasi )

 

Ø  Kontrol Proses Pengembangan

Tujuan dari kontrol pengembangan adalah untuk memastikan bahwa CBIS yang diimplementasikan dapat memenuhi kebutuhan pemakai. Yang termasuk dalam kontrol pengembangan :

  • Manajemen puncak menetapkan kontrol proyek secara keseluruhan selama fase perencanaan dengan cara membentuk komite MIS.
  • Manajemen memberitahu pemakai mengenai orientasi CBIS*Manajemen menentukan kriteria penampilan yang digunakan dalam mengevaluasi operasi CBIS.
  • Manajemen dan bagian pelayanan informasi menyusun disain dan standar CBIS
  • Manajemen dan pelayanan informasi secara bersama-sama mendefinisikan program pengujian yang dapat diterima
  • Manajemen melakukan peninjauan sebelum instalasi yang dilakukan tepat setelah penggantian dan secara  berkala meninjau CBIS untuk memastikan apakah ia memenuhi kriteria penampilan.
  • Bagian pelayanan informasi menetapkan prosedur untuk memelihara dan memodifikasi CBIS dan prosedur  yang disetujui oleh manajemen.

 

Ø  Kontrol Disain Sistem

Tujuannya untuk memastikan bahwa disainnya bisa meminimalkan kesalahan, mendeteksi kesalahan dan mengoreksinya. Kontrol tidak boleh diterapkan jika biayanya lebih besar dari manfaatnya. Nilai atau manfaat adalah tingkat pengurangan resiko.

I. Permulaan Transaksi (Transaction Origination)

Perekaman satu elemen data/lebih pada dokumen sumber

1. Permulaan Dokumentasi Sumber

·         Perancangan dokumentasi

·         Pemerolehan dokumentasi

·         Kepastian keamanan dokumen

2. Kewenangan : Bagaimana entry data akan dibuat menjadi dokumen dan oleh siapa

3. Pembuatan Input Komputer : Mengidentifikasi record input yang salah dan memastikan semua data input diproses

4. Penanganan Kesalahan : Mengoreksi kesalahan yang telah dideteksi dan menggabungkan record yg telah dikoreksi ke record entry

5. Penyimpanan Dokumen Sumber : Menentukan bagaimana dokumen akan disimpan dan dalam kondisi bagaimana dapat dikeluarkan

II. Entri Transaksi

Entri transaksi mengubah data dokumen sumber menjadi bentuk yang dapat dibaca oleh computer. Kontrol ono berusaha untuk menjaga keakuratan data yang akan ditransmisikan ke jaringan komunikasi atau yang akan dimasukan secara langsung ke dalam computer. Area kontrolnya meliputi atas:

1. Entri Data

Kontrol dalam bentuk prosedur tertulis dan dalam bentuk peralatan inputnya sendiri. Dapat dilakukan dengan proses offline/online

2. Verifikasi Data

·         Key Verification (Verifikasi Pemasukan) : Data dimasukkan ke sistem sebanyak 2 kali

·         Sight Verification (Verifikasi Penglihatan) : Melihat pada layar sebelum memasukkan data ke  system

3. Penanganan Kesalahan : Merotasi record yang telah dideteksi ke permulaan transaksi untuk pengoreksian

4. Penyeimbangan Batch : Mengakumulasikan total setiap batch untuk dibandingkan dengan total yang sama yang dibuat selama permulaan transaksi

III. Komunikasi Data

Komputer yang ada dalam jaringan memberikan peluang resiko keamanan yang lebih besar dari pada computer yang ada di dalam suatu ruangan. Area control ini terdiri dari:

1. Control pengiriman pesan

2. Control saluran (channel) komunikasi

3. Control penerimaan pesan

4. Rencana pengamanan datacom secara menyeluruh

IV. Pemrosesan Komputer

Pada umumnya semua elemen control pada disain system selalu dikaitkan dengan pemasukan data ke dalam computer. Area control pada pemrosesan computer terdiri dari:

1.     Penangan Data

2.     Penangan Kesalahan

3.     Database dan Perpustakaan software

Sebagian besar control database dapat diperoleh melalui penggunanaan system manajemen database.

(Sumber:https://yunizainisyah.wordpress.com/tugas/sistem-informasi-manajemen-1/keamanan-dan-kontrol-sistem-informasi/ )

 

Audit atau pemeriksaan dalam arti luas bermakna evaluasi terhadap suatu organisasi, sistem, proses, atau produk. Audit dilaksanakan oleh pihak yang kompeten, objektif, dan tidak memihak, yang disebut auditor. Tujuannya adalah untuk melakukan verifikasi bahwa subjek dari audit telah diselesaikan atau berjalan sesuai dengan standar, regulasi, dan praktik yang telah disetujui dan diterima.

Audit dari CISA/ Certified Information Systems Auditor (2013) adalah Systematic process by which a qualified, competent, independent team or person objectively obtains and evaluates evidence regarding assertions about a process for the purpose of forming an opinion about and reporting on the degree to which the assertion is implemented.”Proses sistematis oleh tim independen atau orang obyektif yang berkualifikasi dan kompeten untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti mengenai pernyataan tentang proses bertujuan untuk menyatakan pendapat dan melaporkan sejauh mana pernyataan2 diimplementasikan yang memenuhi kumpulan standar. Dua definisi mengenai Auditing yang sering dikutip adalah definisi dari America Accounting dan definisi dari Arens dan kawan-kawan. Kedua definisi tersebut sebagaimana dikutip oleh Basalamah (2003) tampak berikut ini, Serta kesimpulan yang diambil dari kedua definisi tersebut.

Auditing adalah suatu proses yang sistematis mengenai pengolahan dan penilaian bukti secara obyektif yang berkenaan dengan pernyataan mengenai tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi dengan tujuan menentukan tingkat kesesuaian antara pernyataan tersebut dengan hasil-hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. (American Accounting Association, Committee on Basic Auditing Consepts, dalam Robetson, 1990) auditing adalah pengumpulan dan dan penilaian bukti mengenai informasi untuk menentukan dan melaporakan mengenai tingkat kesesuaian antara informasi tersebut dengan ketentuan yang ditetapkan. Auditing ini harus dilaksanakan oleh orang yang kompeten dan independen (Aren, Elder dan Beasley, 2003).

Auditing adalah suatu proses penilaian dan etestasi yang sistematis oleh orang (atau orang-orang) yang memiliki keahlian dan independen terhadap informasi mengenai aktivitas ekonomi suatu badan usaha, dengan tujuan untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi tersebut dengan ketentuan yang telah ditetapkan definisi ini tetap berlaku baik dalam audit terhadap organisasi yang tidak mengolah datanya dengan menggunakan computer atau audit non PDE ¼ ataupun dalam audit terhadap auditan yang telah mengolah data bisnis mereka dengan menggunakan computer atau audit PDE.

Dalam kaitannya dengan jenis-jenis audit, Basalamah (2003) mengatakan bahwa beberapa penulis menyebutkan jumlah jenis audit yang berbeda. Sebagaimana menyatakan tiga jenis, sedangkan sebagian menyatakan empat jenis . berapapun jumlah jenisnya, secara keseluruhan jenis-jenis audit adalah sebagai berikut (Basalamah, 2003):

1. Audit Finansial (Financial Audit) atau disebut juga audit extern (external audit) atau audit atas laporan keuangan (financial statement audit atau financial report audit). Audit ini dilakukan terhadap catatan-catatan dan system informasi suatu organisasi untuk menilai perusahaan swasta dilakukan oleh akuntansi public dengan menertibkan opini, sedangkan untuk badan usaha milik Negara / daerah (BUMN/BUMD) dilakukan oleh bapeka atau pihak yang lain ditunjuk. Laporan keuangan akan dikatakan wajar (unqualifield) apabila telah sesuai dengan standar akuntansi diterima umum (generally accepted accounting principles) yang ada di Indonesia disebut dengan standar akuntansi keuangan (SAK) dan ditertibkan oleh IAI, Unwualifield opinion adalah opini yang menunjukan tingkat tertinggi yang diberikan oleh auditor terhadap laporan keuangan yang diauditnya.

2. Audit operational (oprational audit) atau yang disebut juga audit kinerja (permormance audit) atau audit manajemen(manajemen audit) yaitu” suatu reviu atas salah atau bagian dari prosedur-prosedur dan metode-metode operasi suatu organisasi” (Aren dkk, 2003) dengan tujuan untuk memberikan rekomendasi mengenai kehematan dan efesiensi penggunaan suber-sumber daya, efektivitas pencapaian perusahaan” (Robetson, 1990). Sementara itu aren dkk (2003) menyatakan bahwa tujuan dari audit operational adalah untuk membantu agar organisasi tersebut dapat beroperasi secara lebih efektif dan efisien.

3. Audit internal (internal audit) yaitu suatu fungsi penilai yang independen yang ditetapkan (estabilished) dalam suatu organisasi untuk menguji dan mengevaluasi efektifitasnya sebagai pelayanan kepada oraganisasi tersebut. Tujuannya adalah untuk membantu para anggota organisasi tersebut dalam menjalankan kewajiban mereka secara efektif . pada akhirnya audit internal memberikan pelayanan kepada mereka secara efektif. Pada akhirnya audit internal memberikan pelayanan kepada mereka dalam bentuk analisis, penilaian, rekomendasi, konseling, dan informasi yang berkaitan dengan aktivitas-aktivitas yang dievaluasi” ( The Institue of Internal Auditors, dalam Robertson, 1990) Menurut Robertson, audit operasional adalah bagian dari audit internal.

4. Compliance Audit, yaitu suatu jenis audit yang bertujuan “untuk menentukan apakah auditan mengikuti prosedur-prosedur, hokum, atau peraturan –peraturan tertentu yang ditetapkan oleh otoritas yang lebih tinggi” (Arens dkk, 2003) dimana otoritas disini bisa dalam bentuk kontroler perusahaan, pemerintah (peraturan perundang-undangan), mitra perusahaan dalam pelaksanaan kontrak, dan sebagainya. Audit ketaatan ini pada dasarnya merupakan suatu proses untuk menentukan kesesuaian antara aktivitas ekonomi suatu organisasi dengan ketentuan yang berlaku. Beberapa jenis audit dapat diklasifikasikan kedalam audit ini, seperti audit khusus (special audit atau investigasi) terhadap penyelewengan yang mungkin dilakukan oleh seseorang, atau audit perpajakan terhadap aktivitas ekonomi wajib pajak dalam kaitannya dengan kewajiban pajak mereka. Vasarhelyi dan Lin (1990) menyatakan bahwa audit perpajakan merupakan suatu jenis audit tersendiri yang bertujuan menilai apakah surat pemberitahuan pajak (SPT) telah dinyatakan sesuai dengan peraturan perpajakan dan wajar.

Tujuan Audit Sistem Informasi Tujuan audit sistem informasi menurut Ron Weber (1999:11-13) secara garis besar terbagi menjadi empat tahap, yaitu:

a. Pengamanan Aset Aset informasi suatu perusahaan seperti perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), sumber daya manusia, file data harus dijaga oleh suatu sistem pengendalian intern yang baik agar tidak terjadi penyalahgunaan aset perusahaan. Dengan demikian sistem pengamanan aset merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus dipenuhi oleh perusahaan.

b. Menjaga integritas data Integritas data (data integrity) adalah salah satu konsep dasar sistem inforamasi. Data memeiliki atribut-atribut tertentu seperti: kelengkapan, keberanaran, dan keakuratan. Jika integritas data tidak terpalihara, maka suatu perusahaan tidak akan lagi memilki hasil atau laporan yang beanr bahkan perusahaan dapat menderita kerugian

c. Efektifitas Sistem Efektifitas sistem informasi perusahaan melikiki peranan pentigndalam proses pemgambilan keputusan. Suatu sistem informasi dapat dikatakan efektif bila sistem informasi tersebut telah sesuai dengan kebutuhan user

d. Efisiensi Sistem Efisiensi menjadi hal yang sangat penting ketika suatu komputer tidak lagi memilki kapasitas yang memadai atau harus mengevaluasi apakah efisiensi sistem masih memadai atau harus menambah sumber daya, karena suatu sistem dapat dikatakan efisien jika sistem informasi dapat memenuhi kebutuhan user dengan sumber daya informasi yang minimal.

e. Ekonomis Ekonomis mencerminkan kalkulasi untuk rugi ekonomi (cost/benefit) yang lebih bersifat kuantifikasi nilai moneter (uang). Efisiensi berarti sumber daya minimum untuk mencapai hasil maksimal. Sedangkan ekonomis lebih bersifat pertimbangan ekonomi.

Gambaran Umum Tentang Audit System Informasi

Dalam kaitannya dengan pentingnya audit oleh pihak yang independen, guy, Alderman dan winters(1999) menulis sebagai berikut yang dikutip dari well steet journal edisi 16 maret 1998 menyebutkan bahwa kebutuhan audit ini melibatkan oleh adanya empat faktor yang mendasarinya, yaitu sebagai berikut :

1. Kompleksitas

2. Jarak

3. Bias dan motif penyaji

4. Konsekuensi

Audit teknologi informasi

Auditing Teknologi Informasi muncul seiring dengan pesatnya teknologi informasi. Dimana peranan computer dalam proses auditing sangat penting. Bahkan sekarang ini mulai dari input, proses, dan autput setelah banyak yang menggunakan computer atau sudah tidak manual lagi. Pada dasarnya audit TI dapat dibedakan menjadi dua katagori, yaitu:

a. Pengendalian Aplikasi(application Control) dan

b. Pengendalian umu (General Control)

Tujuan pengendalian umum lebih menjamin integritas data yang terdapat didalam system computer yang sekaligus meyakinkan integritas program atau aplikasi yang digunakan untuk melakukan pemerosesan data. Sementara tujuan pengendalian aplikasi dimaksudkan untuk memastikan bahwa data diinput secara benar kedalam aplikasi, diproses secara benar, dan terdapat pengendalian yang memadai atas output yang dihasilkan.

Dalam audit teknologi informasi biasanya pemeriksaan atas pengendalian umum juga dilakukan mengingat pengendalian umum memiliki kontribusi terhadap efektifitas atas pengendalian-pengendalian aplikasi. Dalam pelaksanaannya auditor system informasi mengumpulkan bukti bukti yang memadai melalui berbagai teknik termasuk survey, interview, obeservasi dan review dokumentasi (termasuk review source code bila diperlukan). Hal yang unik, bukti-bukti audit yang diambil oleh auditor biasanya mencangkup pula bukti elektronis (dakta dalam bentuk file softcopy) biasanya auditor system informasi menerapkan teknik audit berbantuan computer disebut juga CAAT (Computer Aided AuditingTechnique). Teknik ini digunakan untuk menganalisa data, misalnya saja data transaksi penjualan, pembelian, transaksi aktivitas persediaan, aktivitas nasabah dan lain-lain. Sesuai dengan standar Auditing ISACA (information system Audit and control Association), salain melakukan pekerjaan lapangan, auditor juga harus menyusun laporan yang mencangkup tujuan pemeriksaan, sifat dan kedalaman pemeriksaan yang dilakukan. Laporan ini di tuju dan batasan-batasan distribusi laporan, laporan juga harus memasukan temuan, kesimpulan, rekomendasi sebagaimana layaknya laporan audit pada umumnya.

            Konsep-konsep Auditing PDE adalah sebagai berikut:

· Evidence

· Due Audit Care

· Fair Presentation

· Independence dan

· Ethical Conduct

Masing masing konsep ini menempati posisi yang cukup penting dalam stuktur dari teori auditing.

Audit Sistem Informasi

Berikut ini adalah yang melatar belakangi pentingnya Audit SI

a. Konsekuensi dari hilangnya sumber data

b. Kemungkinan salah alokasi yang disebabkan keputusan dari data yang tidak benar

c. Kemungkinan kerusakan komputer manakala sistem komputer tidak terkendali

d. Nilai yang tinggi dari perangkat keras , perangkat lunak dan personalia komputer

e. Biaya yang tinggi dari kerusakan komputer

f. Kebutuhan terhadap pemeliharaan dan kerahasiaan (privacy) dari setiap pribadi

g. Kebutuhan terhadap pengendalian dari perkembangan penggunaan komputer.

h. Memperbaiki pengelolaan teknologi informasi

 

· Konsep auditing system informasi

1. Struktur Audit Laporan Keuangan

2. Ada tiga pendekatan Auditing

a. Auditing Around Computer (audit Sekitar Komputer)

b. Auditing Throught Computer(Auditing melalui Komputer)

c. Auditing With Computer (Auditing dengan Komputer)

 

· Teknologi Auditing Sistem Informasi

o Test Data o Integrated Test Facility

o Parallel Simulation o Audit Software

o Generalized Audit software o PC Software

o Embedded Audit Routine

 

Berbagai jenis Audit System Informasi

1. Pendekatan Umum pada Audit System Informasi

2. Audit Aplikasi System Informasi

3. Audit Pengembangan System Aplikasi

4. Audit Pusat Layanan Komputer

 

(Sumber:https://www.academia.edu/40324764/Kontrol_dan_Audit_Sistem_Informasi_MATERI_Information_System_Control_and_Audit_Kontrol_dan_Audit_SIstem_Informasi_Matakuliah_Kontrol_dan_Audit_Sistem_Informasi )

 

Poin Pokok Silabus Bahasan 2

Motivasi dan Kebutuhan terhadap Kontrol dan Audit Sistem Informasi

 

Pengertian Motivasi

Pengertian Motivasi Kata Motivasi berasal dari kata Latin “Motive” yang berarti dorongan, daya penggerak atau kekuatan yang terdapat dalam diri organism yang menyebabkan organism itu bertindak atau berbuat. Selanjutnya diserap dalam bahasa Inggris motivation berarti pemberian motiv, penimbulan motiv atau hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan.

(Sumber:https://repository.nusamandiri.ac.id/repo/files/237916/download/Modul-Audit-Sistem-Informasi-dan-Tata-Kelola..pdf )

 

Organisasi   perlu   melakukan   audit   sistem   informasi   sebagai   evaluasi   dan pengendalian terhadap sistem informasi yang digunakan oleh organisasi, hal ini dilakukan dengan alasan untuk :

1. Pencegahan terhadap biaya organisasi bila terjadi data yang hilang

2. Pengambilan keputusan yang salah akibat informasi yang salah

3. Penyalahgunaan computer untuk kebutuhan diluar organisasi

4. Adanya   nilai   dari   yang   berharga   dari   perangkat   keras   komputer, perangkat lunak dan 

    personel

5. Biaya yang tinggi untuk kerusakan komputer

6. Kerahasiaan data atau informasi yang dimiliki perusahaan

7. Pengontrolan pengembangan / evolusi computer

 

Sedangkan   empat   tujuan   utama   mengapa   perlu   dilakukannya   audit   sistem informasi yaitu:

1. Mengamankan assetAsset (aktiva) yang berhubungan dengan instalasi sistem informasi juga perludilindungi   dengan   memasang   pengendalian   internal.   Perangkat   keras   bisarusak karena unsur kejahatan ataupun sebab-sebab lain. Perangkat lunak danisi file data   dapat   dicuri.   Peralatan   pendukung   dapat   dihancurkan   ataudigunakan untuk tujuan yang tidak diotorisasi.

2. Menjaga integritas dataTanpa menjaga integritas data, organisasi tidak dapat memperlihatkan potretdirinya dengan benar akibatnya, keputusan maupun langkah-langkah pentingdi organisasi salah sasaran karena tidak didukung dengan data yang benar.

3. Menjaga efektivitas sistemUntuk   menilai   efektivitas   sistem,   auditor   sistem   informasi   harus   tahumengenai kebutuhan pengguna sistem atau pihak-pihak pembuat keputusanyang   terkait   dengan   layanan   sistem   tersebut.   Selanjutnya,   untuk   menilaiapakah   sistem   menghasilkan   laporan   /   informasi   yang   bermanfaat   bagipenggunanya,   auditor   perlu   mengetahui   karakteristik   user   berikut   prosespengambilan keputusannya.

4. Mencapai efisiensi sumber dayaSuatu sistem sebagai fasilitas pemrosesan informasi dikatakan efisien jika iamenggunakan   sumber   daya   seminimal   mungkin   untukmenghasilkan output yang   dibutuhkan.   Efisiensi   sistem   pengolahan   datamenjadi penting apabila tidak ada lagi kapasitas sistem yang menganggur.

(Sumber:https://www.studocu.com/id/document/politeknik-negeri-ujung pandang/accouting/rangkuman-mata-kuliah-audit-sistem-informasi/17365145 )

 

 

Poin Pokok Silabus Bahasan 3

Fondasi Audit Sistem Informasi

 

Audit sistem informasi atau Information System Audit disebut juga EDP Audit (Electronc Data Processing Audit) atau computer audit merupakan suatu proses dikumpulkannya data dan dievakuasinya bukti untuk menetapkan apakah suatu sistem aplikasi komputerisasi sudah diterapkan dan menerapkan sistem pengendalian internal yang sudah sepadan, seluruh aktiva dilindungi dengan baik atau disalahgunakan dan juga terjamin integritas data, keandalan dan juga efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan informasi berbasis komputer. Audit sistem informasi merupakan gabungan dari berbagai macam ilmu, antara lain traditional audit, manajemen sistem informasi, sistem informasi akuntansi, ilmu komputer, dan behavioral science.

Menurut Ron Weber (2010) audit sistem informasi adalah proses pengumpulan dan penilaian bukti–bukti untuk menentukan apakah sistem komputer dapat mengamankan aset, memelihara integritas data, dapat mendorong pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan menggunakan sumberdaya secara efisien. Beberapa aspek yang diperiksa pada audit sistem informasi seperti efektifitas, efisiensi, availability system, reliability, confidentiality, dan integrity, aspek security, audit atas proses, modifikasi program, audit atas sumber data, dan data file.

Faktor-faktor yang mendorong pentingnya kontrol dan audit sistem informasi (Weber, 2006) adalah :

·         Mendeteksi agar komputer tidak dikelola secara kurang terarah.

·         Mendeteksi resiko kehilangan data.

·         Mendeteksi resiko pengambilan keputusan yang salah akibat informasi hasil proses sistem komputerisasi salah/lambat/tidak lengkap.

·         Menjaga aset perusahaan karena nilai hardware, software dan personil yang lazimnya tinggi.

·         Mendeteksi resiko error komputer.

·         Mendeteksi resiko penyalahgunaan komputer (fraud).

·         Menjaga kerahasiaan

·         Meningkatkan pengendalian evolusi penggunaan computer

 

Tujuan audit sistem informasi menurut Ron Weber secara garis besar yaitu:

·         Pengamanan Aset. Aset informasi suatu perusahaan seperti perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), sumber daya manusia, file data harus dijaga oleh suatu sistem pengendalian internal yang baik agar tidak terjadi penyalahgunaan aset perusahaan. Dengan demikian sistem pengamanan aset merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus dipenuhi oleh perusahaan.

·         Menjaga Integritas Data. Integritas data (data integrity) adalah salah satu konsep dasar sistem informasi. Data memiliki atribut-atribut tertentu seperti: kelengkapan, kebenaran, dan keakuratan. Jika integritas data tidak terpelihara, maka suatu perusahaan tidak akan lagi memilki hasil atau laporan yang benar bahkan perusahaan dapat mengalami kerugian.

·         Efektifitas Sistem. Efektifitas sistem informasi perusahaan memiliki peranan penting dalam proses pengambilan keputusan. Suatu sistem informasi dapat dikatakan efektif bila sistem informasi tersebut telah sesuai dengan kebutuhan user.

·         Efisiensi Sistem. Efisiensi menjadi hal yang sangat penting ketika suatu komputer tidak lagi memilki kapasitas yang memadai atau harus mengevaluasi apakah efisiensi sistem masih memadai atau harus menambah sumber daya, karena suatu sistem dapat dikatakan efisien jika sistem informasi dapat memenuhi kebutuhan user dengan sumber daya informasi yang minimal.

 

 

Tujuan Audit Sistem Informasi dapat dikelompokkan ke dalam dua aspek utama dari ketatakelolaan IT, yaitu :

1.       Conformance(Kesesuaian) – Pada kelompok tujuan ini audit sistem informasi difokuskan untuk memperoleh kesimpulan atas aspek kesesuaian, yaitu : Confidentiality (Kerahasiaan), Integrity (Integritas), Availability (Ketersediaan) dan Compliance (Kepatuhan).

2.       Performance(Kinerja) – Pada kelompok tujuan ini audit sistem informasi difokuskan untuk memperoleh kesimpulan atas aspek kinerja, yaitu : Effectiveness (Efektifitas), Efficiency (Efisiensi), Reliability (Kehandalan).

 

Adapun tujuan yang lain adalah :

·         Untuk memeriksa kecukupan dari pengendalian lingkungan, keamanan fisik, keamanan logikal serta keamanan operasi sistem informasi yang dirancang untuk melindungi piranti keras, piranti lunak dan data terhadap akses yang tidak sah, kecelakaan, perubahan yang tidak dikehendaki.

·         Untuk memastikan bahwa sistem informasi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan sehingga bisa membantu organisasi untuk mencapai tujuan strategis.

 

Dalam melaksanakan Audit sistem informasi, seorang auditor harus memastikan tujuan-tujuan berikut ini terpenuhi.

·         Perlengkapan keamanan melindungi perlengkapan komputer, program, komunikasi, dan data dari akses yang tidak sah, modifikasi, atau penghancuran.

·         Pengembangan dan perolehan program dilaksanakan sesuai dengan otorisasi khusus dan umum dari pihak manajemen.

·         Modifikasi program dilaksanakan dengan otorisasi dan persetujuan pihak manajemen.

·         Pemrosesan transaksi, file, laporan, dan catatan komputer lainnya telah akurat dan lengkap.

·         Data sumber yang tidak akurat. atau yang tidak memiliki otorisasi yang tepat diidentifikasi dan ditangani sesuai dengan kebijakan manajerial yang telah ditetapkan.

·         File data komputer telah akurat, lengkap, dan dijaga kerahasiaannya.

 

Ada Tiga Pendekatan Auditing yaitu :

·         Auditing Around Computer (Audit Sekitar Komputer) yaitu dimana penggunaan komputer pada tahap proses diabaikan.

·         Auditing Throught Computer (Auditing Melalui Komputer) yaitu dimana pada tahap proses penggunaan komputer telah aktif.

·         Auditing With Computer (Auditing Dengan Komputer) yaitu dimana input, proses dan output telah menggunakan komputer.

 

(Sumber: https://accounting.binus.ac.id/2019/06/10/memahami-audit-sistem-informasi/ )

 

 

Audit sistem informasi adalah proses pengumpulan dan penilaian bukti-bukti untuk menentukan apakah sistem komputer dapat mengamankan aset, memelihara integritas data, dapat mendorong pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan menggunakan sumberdaya secara efisien dan pengendalian dari sistem informasi merupakan bagian penting dari audit sistem informasi karenanya diperlukan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana perbandingan sistem manual dengan sistem informasi.

 

Jenis Pengendalian dalam Sistem Informas dalam Audit SI

 

Pengendalian pada sistem informasi secara umum diklasifikasikan menjadi dua bagian besar.

 

1. Pengendalian Umum Adalah pengendalian yang mengatur lingkungan di mana sistem informasi dibangun, dikembangkan, dipelihara, dan dioperasikan. Pengendalian yang mencakup standar pembangunan dan pengembangan sistem yang dioperasikan oleh organisasi, pengendalian yang berlaku untuk pengoperasian instalasi komputer termasuk didalamnya perangkat keras, perangkat lunak, teknologi jaringan dan semua bagian yang berhubungan dengan sistem berbasis komputer.

 

2. Pengendalian aplikasi atau sistem informasi, baik manual dan terkomputerisasi, dalam aplikasi bisnis untuk memastikan data tersebut diproses secara lengkap, akurat, dan tepat waktu. Kontrol aplikasi biasanya khusus untuk aplikasi bisnis dan termasuk:

 

a. Kontrol input seperti validasi dan batching data. Proses sebuah sistem dimulai pada aktivitas input data untuk kemudian diolah oleh sistem. Input data perlu serangkaian proses validasi yang harus dilaksanakan untuk dapat menggunakan sistem seperti memasukkan user id dan password jika menggunakan layar komputer atau keyboard sebagai media inputnya. Proses yang berbeda jika sistem menggunakan alat yang berbeda sebagai media input sebagai contoh finger scanner atau RFID (Radio Frequnce Identification) atau QRcode. Kesimpulannya pengendalian sistem informasi bergantung pada device yang digunakan. Yang kedua terkait dengan batching data yang tersimpan dalam sistem harus melalui serangkaian proses validasi untuk memastikan bahwa data yang akan disimpan sudah mengikuti ketentuan yang ada.

b. Pengendalian run-to-run untuk memeriksa total file pada masukan (input), proses (process) dan keluaran (output) dari sistem yang digunakan. Pengendalian pada bagian ini sangat penting untuk memastikan secara kuantitas file yang digunakan tidak mengalami pengurangan saat proses dilakukan. Pengurangan yang dimaksud adalah informasi yang dihasilkan tidak valid karena mengalami kesalahan saat pemrosesan berlangsung, misalnya salah perhitungan yang disebabkan kesalahan pemrograman komputer.

 

Pada akhirnya proses audit adalah menentukan apakah sistem aplikasi berfungsi sebagaimana mestinya, integritas, akurasi, dan kelengkapan data terkontrol dengan baik, dan melaporkan setiap perbedaan yang signifikan. Integritas data bergantung pada kecukupan kontrol aplikasi. Namun, kontrol aplikasi sepenuhnya bergantung pada integritas kendali umum atas lingkungan di dalamnya yang mana aplikasi dikembangkan dan dijalankan. Proses audit sering mengambil posisi yang cukup ketergantungan pada kontrol di sekitar komputer, yaitu dalam kontrol aplikasi atau sistem informasi karena auditor berkonsentrasi pada input dan output dari komputer, bukan apa yang terjadi pada komputer. Dengan penyebaran kerja online dan real time, dan dari meningkatnya kapasitas penyimpanan yang fleksibel, semua data organisasi biasanya dimuat secara permanen di sistem komputer dan dapat diakses dari berbagai tempat, dengan hanya melakukan kontrol terhadap perangkat lunak sistem yang mengendalikan akses ke data. Sistem ini secara teknis meningkatkan kompleksitas namun potensi untuk memanfaatkan kelemahan yang ada juga meningkat.

 

 

Poin Pokok Silabus Bahasan 4

Jenis audit: audit internal, audit system informasi, audit kecurangan (fraud), eksternal audit/audit keuangan, audit internal

 

Jenis-jenis Audit Sistem Informasi

Audit sistem informasi dapat digolongkan dalam tipe atau jenis-jenis audit sebagai berikut.

 

Ø  Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit)

Audit yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kewajaran laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan (apakah sesuai dengan standar akuntansi keuangan serta tidak menyalahi uji materialitas). Apabila sistem akuntansi organisasi yang di audit merupakan sistem akuntansi berbasis komputer, maka dilakukan audit terhadap sistem informasi akuntansi apakah proses/mekanisme sistem dan program komputer telah sesuai, pengendalian umum sistem memadai dan data telah substantif.

 

(Sumber: https://osf.io/xzecv/download )

 

Ø  .Audit Operasional (Operational Audit)

Audit terhadap aplikasi komputer terbagi menjadi tiga jenis, antara lain:

 

1.       Post implementation Audit (Audit setelah implementasi) Audit ini dilakukan untuk memeriksa apakah sistem aplikasi komputer yang telah diimplementasikan pada suatu organisasi atau perusahaan telah efektif sesuai dengan kebutuhan pengguna dan telah dijalankan dengan sumber daya yang efisien. Auditor mengevaluasi apakah sistem aplikasi tertentu perlu dimodifikasi atau bahkan dihentikan karena sudah tidak sesuai kebutuhan atau mengandung kesalahan.

2.       Concurrent Audit (Audit secara bersama) Audit ini dilakukan oleh auditor yang menjadi anggota dalam tim pengembangan sistem. Mereka membantu tim dalam meningkatkan kualitas pengembangan sistem yang dibangun oleh para sistem analis, desainer, dan programmer dan akan diimplementasikan. Auditor dalam hal ini mewakili pimpinan proyek dan manajemen sebagai quality assurance.

3.       Concurrent Audits (Audit secara bersama-sama) Audit ini dilakukan oleh auditor untuk mengevaluasi kinerja unit fungsional atau fungsi sistem informasi (pusat/instalasi komputer) apakah telah dikelola dengan baik, apakah kontrol dalam pengembangan sistem secara keseluruhan sudah dilakukan dengan baik, dan apakah sistem komputer telah dikelola dan dioperasikan dengan baik.

 

( Sumber: https://fikti.umsu.ac.id/audit-sistem-informasi-pengertian-tujuan-jenis-dan-tahapan/ )

 

Ø  Audit Kepatuhan

Audit kepatuhan adalah jenis kegiatan audit yang bertujuan untuk menilai sejauh mana unit kerja dalam perusahaan menjalankan tugasnya sesuai dengan aturan dan prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Audit ini bertujuan untuk memastikan bahwa karyawan dan departemen mematuhi peraturan perusahaan, serta peraturan eksternal yang berlaku.

 

( Sumber: https://startupstudio.id/tiga-jenis-audit-internal-dalam-perusahaan/ )

Ø  Audit Kecurangan

Kecurangan    atau    penipuan    (selanjutnya    disebut “Fraud”) didefinisikan dalam Webster’s New Worls Dictionarysebagai   "penipuan   yang   disengaja   untuk   menyebabkan seseorang menyerahkan properti atau hak yang sah." Definisi lain   dari   sisi   hukum   (legal   definition),   fraud   juga   dapat ditemukan  dalam  kasus  hukum  di  pengadilan.  Salah  satu contoh  dari  definisi  semacam  itu  adalah  "Sebuah  istilah umum,  mencakup  semua  cara  yang  beraneka  ragam  yang dapat    dirancang    oleh    kecerdikan    manusia,   dan    yang digunakan   oleh   seorang   individu   untuk   mendapatkan keuntungan   dari   yang  lain  dengan   saran   palsu   dengan menekan  kebenaran  dan  mencakup  semua  kejutan,  tipuan, kelicikan,  menyembunyikan, dan setiap cara yang tidak adil yang  digunakan  orang  lain  untuk  ditipu."  Fraud  biasanya disebut  juga  sebagai  tindakan  yang  disengaja  dilakukan untuk  merugikan  orang  lain,  mengamankan  keuntungan yang  tidak  adil  atau  melanggar  hukum  (Rezaee  &  Riley, 2010). Securities  Exchange  Commision,  Amerika  Serikat  (US-SEC)  memiliki  definisi  fraud  tersendiri  yang  berlaku  untuk transaksi   yang   melibatkan   sekuritas. 

 

·         Metodologi Audit Kecurangan

Metodologi  yang  digunakan  dalam  penilaian  resiko kecurangan   khususnya   dalam   ruang   lingkup   audit   atas laporan   keuangan   dapat   menggunakan   panduan   yang diterbitkan  oleh  IFAC  Audit  Guide  bahwa  dalam  prosedur penaksiran resiko kecurangan, audit teamharus mengindentifikasikan risiko–risiko kecurangan secara bersama-sama    ke    dalam    eleman-elemen fraud    triagle.  Risiko-risiko  yang  telah  diklasifikasikan  ke  dalam  elemen-eleman fraud     triagle     nantinya     akan     dinilai     tingkat signifikasinya  berdasarkan professional  judgment.  Prosedur penaksiran    risiko    kecurangan    (Fraud    Risk    assessment Procedure)    dilakukan    dengan    tahapan-tahapan    sebagai berikut yaitu:

 a.Audit Team Discussion adalah mengenai informasi yang di peroleh   anggota   tim   audit   untuk   memperolah   suatu keyakinan   yang   terintegrasi   mengenai   faktor   risiko kecurangan yang mengkin terjadi; 

b.Identification   of   Fraud   Risk   Factor   merupakan   proses mengidentifikasi faktor risiko kecurangan yang dilakukan.

 

·         Fraud Data Analytics (FDA)

FDA   Adalah   suatu   kombinasi   teknologi   analitik   dan teknik fraud detection    yang    akan    membantu    mendeteksi kemungkinan  transaksi  yang  tidak  tepat  seperti  penipuan  atau penyuapan   baik   sebelum   transaksi   dilakukan   atau   setelah transaksi dilakukan

 

·         FDA Metodology

(Sumber: https://repository.penerbiteureka.com/publications/563051/audit-kecurangan-dan-forensik )

 


Ø  Audit Internal

Suatu fungsi penilai yang independen yang ditetapkan (estabilished) dalam suatu organisasi untuk menguji dan mengevaluasi efektifitasnya sebagai pelayanan kepada oraganisasi tersebut. Tujuannya adalah untuk membantu para anggota organisasi tersebut dalam menjalankan kewajiban mereka secara efektif . pada akhirnya audit internal memberikan pelayanan kepada mereka secara efektif. Pada akhirnya audit internal memberikan pelayanan kepada mereka dalam bentuk analisis, penilaian, rekomendasi, konseling, dan informasi yang berkaitan dengan aktivitas-aktivitas yang dievaluasi” ( The Institue of Internal Auditors, dalam Robertson, 1990) Menurut Robertson, audit operasional adalah bagian dari audit internal.

 

 

(Sumber:https://www.academia.edu/40324764/Kontrol_dan_Audit_Sistem_Informasi_MATERI_Information_System_Control_and_Audit_Kontrol_dan_Audit_SIstem_Informasi_Matakuliah_Kontrol_dan_Audit_Sistem_Informasi )

 

Ø  Audit Eksternal

Audit eksternal adalah proses pemeriksaan dan evaluasi terhadap keandalan laporan keuangan suatu perusahaan oleh seorang auditor atau sebuah lembaga audit yang independen dari perusahaan tersebut.

 

Tujuan dari audit eksternal adalah untuk memberikan opini atau saran mengenai keandalan laporan keuangan perusahaan tersebut, sehingga dapat memberikan kepercayaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan tersebut. Audit eksternal dilakukan dengan cara mengumpulkan bukti-bukti yang cukup dan relevan, menilai kecukupan dan keandalan bukti tersebut, serta memberikan opini atas laporan keuangan perusahaan.

 

(Sumber: https://www.asdf.id/audit-eksternal-adalah-ini-penjelasannya/ )

·         Perbedaan Audit Internal dan Audit Eksternal

Ada perbedaan yang sangat mendasar antara audit internal dengan audit eksternal. Berikut tabel perbedaannya



( Sumber: https://startupstudio.id/tiga-jenis-audit-internal-dalam-perusahaan/ )

 

Poin Pokok Silabus Bahasan 5

Ruang Lingkup Audit Sistem Informasi

 

Ruang lingkup Audit Sistem Informasi (SI) sebagai audit operasional terhadap fungsi sistem informasi (IT governance), audit objective-nya adalah melakukan assessment terhadap efektifitas, efisiensi, dan ekonomis tidaknya pengelolaan sistem informasi suatu organisasi. Audit SI dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada manajemen puncak agar manajemen mempunyai “a clear assessment” terhadap sistem informasi yang diimplementasikan pada organisasi tersebut. Misalnya, bahwa application software yang ada telah dianalisis dan didesain dengan baik, telah diimplementasikan dengan security features yang memadai. Perlu dipahami bahwa audit SI tidak harus selalu merupakan penugasan lengkap mencakup seluruh aspek. Penugasan audit SI mungkin mencakup semua, tetapi bisa dengan beberapa variasi, atau beberapa aspek saja: suatu audit mungkin hanya menitikberatkan fokus pada satu aspek saja, atau beberapa aspek yang penting sesuai kebutuhan organisasi tersebut. Meskipun hakekatnya keseluruhan aspek IT Governance tersebut sesungguhnya penting untuk diaudit dalam rangka peningkatan mutu sistem, namun itu tidak bersifat harus (it is not mandatory). Bisa saja dilakukan penugasan-penugasan audit yang berbeda untuk satu atau beberapa aspek, tidak harus sekali “gebrak” (to do all of them in one assignment). Salah satu alasannya adalah memang kompetensi/keterampilan yang diperlukan bagi auditor untuk setiap aspek tersebut bisa berbeda. Oleh karena itu aspek sebetulnya ada keterkaitan, dan semuanya adalah penting, maka bila dilakukan audit secara terpisah-pisah, manajemen harus mendapat gambaran umum (overview) yang jelas dan terpadu (the overview is critical).

Jadi, terdapat berbagai jenis penugasan audit sistem informasi yang dapat dilaksanakan pada suatu organisasi, misalnya sebagai berikut: Untuk mengidentifikasi sistem yang ada (inventory existing systems), baik yang ada pada tiap divisi/unit/departemen ataupun yang digunakan menyeluruh. Untuk dapat lebih memahami seberapa besar sistem informasi mendukung kebutuhan strategis perusahaan, operasi perusahaan, mendukung kegaitan operasional departemen/unit/divisi, kelompok kerja, maupun para petugas dalam melaksanakan kegiatannya. Untuk mengetahui pada bidang atau area mana, fungsi, kegiatan atau business processes yang didukung dengan sistem serta teknologi informasi yang ada. Untuk menganalisis tingkat pentingnya data/informasi yang dihasilkan oleh sistem dalam rangka mendukung kebutuhan para pemakainya. Untuk mengetahui keterkaitan antara data, sistem pengolahan dan transfer informasi. Untuk mengidentifikasi apakah ada kesenjangan (gap) antara sistem dengan kebutuhan.

 

( Sumber: https://osf.io/gn7u2/download )

 

Ruang Lingkup Audit Sistem Informasi

Audit sistem informasi untuk mengevaluasi sistem, praktik dan operasi dapat juga termasuk satu atau dua hal berikut ini:

· Penilaian   terhadap   kontrol   internal   termasuk   di   dalamnya   lingkungan teknologi   informasi   untuk   menilai   validitas,  reliabiltas  dan  keamanan   dari informasi

·Penilaian   terhadap   efisiensi   dan   efektivitas   dari   lingkungan   teknologi informasi dalam hubungan ekonomi

 

( Sumber: https://www.studocu.com/id/document/politeknik-negeri-ujung-pandang/accouting/proses-audit-sistem-informasi-ruang-lingkup-si/17365150 )

Selain itu, ruang lingkup sistem informasi juga terdapat sebagai berikut:

·         Mengidentifikasi sistem yang ada

·         Memahami seberapa besar sistem informasi mendukung kebutuhan strategis organisasi dan operasional organisasi

·         Mengetahui pada bidang atau area mana, fungsi, kegiatan atau business processes yang didukung dengan sistem informasi.

·         Menganalisis tingkat pentingnya data/informasi yang dihasilkan oleh sistem dalam rangka mendukung kebutuhan para pemakainya.

·         Mengetahui keterkaitan antara data, sistem pengolahan dan transfer informasi.

·         Mengidentifikasi apakah ada kesenjangan (gap) antara sistem dengan kebutuhan.

·         Membuat peta (map) dari information flows yang ada

( Sumber: https://sif.uin-suska.ac.id/wp-content/uploads/2024/02/P1-P3-Pengantar-Audit-TI-UIN.pdf )

 

Ruang lingkup audit, termasuk didalamnya area audit fungsional, periode audit yang tercakup, dan sistem informasi, aplikasi, atau lingkungan proses yang diaudit.

(Sumber:https://repository.nusamandiri.ac.id/repo/files/237916/download/Modul-Audit-Sistem-Informasi-dan-Tata-Kelola..pdf )

 

Perubahan ruang lingkup / waktu audit, perubahan ruang lingkup menjadi masalah yang sering terjadi ketika saat proses audit berjalan ditemukan hal yang saling berkaitan antara satu bagian dengan bagian lainnya sehingga secara tidak langsung memperluas lingkup dan waktu pelaksanaan audit.

 

(Sumber: https://pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/MSIM4305-M1.pdf )

 

  

 

Poin Pokok Silabus Bahasan 6

Jenis-jenis Kontrol dan Audit Sistem Informasi

1. Kontrol Keamanan Fisik

Kontrol keamanan fisik meliputi semua perangkat keras komputer termasuk CPU dan semua perangkat periferal. Dalam sistem jaringan, perangkat ini mencakup semua bridge, router, gateway, sakelar, modem, hub, media telekomunikasi, dan perangkat lain yang digunakan dalam transmisi fisik data. Peralatan ini harus dilindungi secara memadai dari kerusakan fisik akibat bencana alam, seperti gempa bumi, angin topan, tornado, dan banjir, serta bahaya lainnya, seperti pemboman, kebakaran, lonjakan listrik, pencurian, vandalisme, dan gangguan lainnya.

Kontrol yang melindungi dari ancaman ini disebut kontrol keamanan fisik. Contoh kontrol keamanan fisik mencakup berbagai jenis perlindungan (misalnya, kunci konvensional, akses elektronik, biometrik, password); perlindungan asuransi atas perangkat keras dan biaya untuk membuat ulang data; prosedur untuk melakukan pencadangan harian perangkat lunak sistem, program aplikasi, dan data; serta penyimpanan atau backup. Dalam proses audit sistem informasi terkait dengan hardware harus meliputi beberapa proses untuk memastikan semua proses dari mulai pengadaan perangkat keras dari supplier hingga pembuangan perangkat keras ketika sudah habis umur ekonomisnya memenuhi standard keamanan perusahaan. Berikut ini adalah tahapantahapan yang harus dilakukan untuk melindungi keamanan data yang berhubungan dengan perangkat keras.

a. Perencanaan, yaitu kegiatan membuat rencana semua kegiatan yang dilakukan selama kegiatan audit sistem informasi.

b. Acquisistion adalah kegiatan menganalisis sumber perangkat keras yang digunakan oleh perusahaan untuk mendukung sistem informasi yang digunakan oleh perusahaan.

c. Implementation adalah kegiatan memahami dan mengawasi instalasi perangkat keras yang digunakan untuk mendukung sistem informasi perusahaan.

d. Maintenance adalah kegiatan memahami proses pemeliharaan perangkat keras yang digunakan untuk mendukung sistem informasi perusahaan.

e. Disposal adalah kegiatan mengetahui kegiatan pembuangan perangkat keras pendukung sistem informasi perusahaan yang sudah tidak digunakan lagi.

Proses audit sistem informasi yang berhubungan dengan perangkat keras fokus pada 4 hal.

a. Efektivitas dan efisiensi penggunaan aset perangkat keras. Efektivitas dan efisiensi pada biaya dan manfaat dari perangkat keras yang digunakan artinya biaya atau harga dari perangkat keras yang dibeli harus berdasarkan manfaat yang dihasilkan sehingga tercipta efektivitas dan efisiensi yang tinggi.

b. Sistem keamanan sebagai perlindungan aset perangkat keras. Sistem pengamanan aset perangkat keras meliputi lokasi atau gedung tempat penyimpanan dan semua sub sistem di dalamnya seperti tenaga keamanan, pendukung jika terjadi bencana alam termasuk backup data pada lokasi yang berbeda

 c. Ketersediaan penggunaan perangkat keras bagi pihak yang berwenang merupakan salah satu hal penting sehingga penggunaan perangkat keras dapat ditelusuri penggunaannya, jika terdapat kerusakan atau penyalahgunaan dapat dengan mudah ditindak lanjuti.

d. Pemeliharaan aset perangkat keras secara terintegrasi menekankan pada kondisi dimana penggunaan aset perangkat keras tidak berdiri sendiri artinya penggunaan perangkat keras berhubungan satu dengan lainya. Oleh karena itu pemeliharaan perangkat keras harus dilakukan secara terpadu.

 

2.       Kontrol Keamanan Logis

Kontrol keamanan logis adalah perlindungan keamanan atas sistem komputasi secara memadai dari akses yang tidak sah dan kerusakan yang tidak disengaja atau disengaja atau perubahan program perangkat lunak sistem, program aplikasi, dan data. Perlindungan dari ancaman ini dilakukan melalui penerapan kontrol keamanan logis. Kontrol keamanan logis adalah kontrol yang membatasi kapabilitas akses pengguna sistem dan mencegah pengguna yang tidak berwenang mengakses sistem. Kontrol keamanan logis ada di dalam sistem operasi, sistem manajemen database, program aplikasi, atau ketiganya.

Jumlah dan jenis kontrol keamanan logis yang tersedia bervariasi dengan setiap sistem operasi, sistem manajemen basis data, aplikasi, dan banyak jenis perangkat telekomunikasi. Beberapa dirancang dengan berbagai pilihan kontrol keamanan logis dan parameter yang tersedia untuk administrator keamanan sistem. Ini termasuk ID pengguna, kata sandi dengan persyaratan panjang minimum dan jumlah digit dan karakter yang diperlukan, penangguhan ID pengguna setelah upaya masuk yang gagal berturut-turut, pembatasan akses direktori dan file, pembatasan waktu dan hari, dan pembatasan penggunaan terminal. Sistem operasi dan aplikasi lain dirancang dengan sedikit pilihan kontrol. Untuk sistem ini, kontrol keamanan logis sering ditambahkan sebagai alternatif saja, mengakibatkan pengaturan kontrol yang lebih lemah daripada yang diinginkan, bahkan ketika pembatasan akses maksimum yang tersedia telah diterapkan.

Banyak sistem diprogram dengan kontrol yang sepadan dengan tingkat risiko yang terkait dengan fungsi yang dilakukan oleh sistem. Namun, waspadalah terhadap sistem berisiko tinggi dengan kontrol yang buruk. Banyak sistem berisiko tinggi telah diprogram dengan fitur kontrol yang tidak memadai atau memiliki fitur kontrol yang memadai, tetapi fitur tersebut tidak diimplementasikan secara memadai. Masalah dapat terjadi ketika pemrogram dan/ atau pemilik proses tidak menyadari satu atau lebih risiko signifikan yang dihadapi organisasi selama penggunaan sistem.

(Sumber: https://pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/MSIM4305-M1.pdf )

Control Audit Sistem Informasi Control Audit Sistem Informasi terdiri dari :

a. Kontrol lingkungan (Environmental controls)

Pengendalian lingkungan meliputi hal-hal seperti kebijakan keamanan IS, standar, dan pedoman; struktur pelaporan dalam lingkungan pemrosesan IS (termasuk operasi komputer dan pemrograman); kondisi keuangan organisasi dan vendor jasa

b. Kontrol keamanan fisik (Physical security controls)

Kontrol keamanan fisik berkaitan dengan perlindungan terhadap perangkat keras komputer, komponen, dan fasilitas di mana mereka berada.

c. Kontrol keamanan logis (Logical security controls)

Kontrol keamanan logis adalah yang telah dikerahkan dalam sistem operasi dan aplikasi untuk membantu mencegah akses tidak sah dan penghancuran yang disengaja atau disengaja terhadap program dan data.

d. Kontrol operasi IS (IS operating controls)

Kontrol operasi sistem informasi, yang dirancang untuk membantu memastikan bahwa sistem informasi beroperasi secara efisien dan efektif. Kontrol ini termasuk penyelesaian tepat waktu dan akurat pekerjaan produksi, distribusi media output, kinerja cadangan dan prosedur pemulihan, kinerja prosedur pemeliharaan

(Sumber:https://repository.nusamandiri.ac.id/repo/files/237916/download/Modul-Audit-Sistem-Informasi-dan-Tata-Kelola..pdf  )

Preventif control adalah suatu langkah pencegahan yang diambil sebelum keadaan darurat, kehilangan, atau masalah terjadi. Ini termasuk pengunaan alarm dan kunci, pemisahan tugas (untuk mencegah perekam uang tunai dari kas dan mengendalikan persediaan pesonil dari pengendalian persediaan), ditambah umum lainnya dan kebijakan-kebijakan otorisasi khusus.

Detective control adalah sesuatu yang dirancang untuk menemukan kesalahan atau penyimpangan setelah mereka telah terjadi. Misalnya departemen memeriksa tagihan telepon untuk panggilan pribadi.

Corrective control adalah program yang dibuat khusus untuk memperbaiki kesalahan pada data yang mungkin timbul akibat gangguan pada jaringan, computer ataupun kesalahan user.

Secara umum, fungsi dari kontrol adalah untuk menekan kerugian yang mungkin timbul akibat kejadian yang tidak diharapkan yang mungkin terjadi pada sebuah sistem.

 

Jenis Audit

Ø  System Audit

Audit terhadap sistem terdokumentasi untuk memastikan sudah memenuhi standar nasional atau internasional.

Ø  Product / Service Audit

Utuk menguji suatu produk atau layanan telah sesuai spesifikasi yang telah ditentukan dan cocok digunakan.

Ø  Compliance Audit

Untuk menguji efektivitas implementasi darai kebijakan, prosedur, control dan unsur hukum yang lain.

 

(Sumber: https://www.slideshare.net/syulamri/kontrol-dan-audit-sistem-informasi-70889583 )

 

 


Poin Pokok Silabus Bahasan 7

Tujuan Kontrol dan Audit Sistem Informasi

 

Tujuan Kontrol Sistem Informasi

Ø  Kontrol Proses Pengembangan

Tujuan dari kontrol pengembangan adalah untuk memastikan bahwa CBIS yang diimplementasikan dapat memenuhi kebutuhan pemakai.

Ø  Kontrol Desain Sistem

Tujuannya untuk memastikan bahwa disainnya bisa meminimalkan kesalahan, mendeteksi kesalahan dan mengoreksinya. Kontrol tidak boleh diterapkan jika biayanya lebih besar dari manfaatnya. Nilai atau manfaat adalah tingkat pengurangan resiko.

Ø  Kontrol Pengoperasian Sistem

Kontrol pengoperasian sistem dimaksudkan untuk mencapai efisiensi dan keamanan. Kontrol yang memberikan kontribusi terhadap tujuan ini dapat diklasifikasikan menjadi 5 area :

1. Struktur organisasional

Staf pelayanan informasi diorganisir menurut bidang spesialisasi. Analisis, programmer, dan personel operasi biasanya dipisahkan dan hanya mengembangkan ketrampilan yang diperlukan untuk area pekerjaannya sendiri.

2. Kontrol perpustakaan

Perpustakaan komputer adalah sama dengan perpustakaan buku, dimana didalamnya ada pustakawan, pengumpulan media, area tempat penyimpanan media dan prosedur untuk menggunakan media tersebut. Yang boleh mengakses perpustakaan media hanyalah pustakawannya.

3. Pemeliharaan Peralatan

Orang yang tugasnya memperbaiki computer yang disebut Customer Engineer(CE) / Field Engineer (FE) / Teknisi Lapangan menjalankan pemeliharaan yang terjadwal / yang tak terjadwal.

4. Kontrol lingkungan dan keamanan fasilitas

Untuk menjaga investasi dibutuhkan kondisi lingkungan yang khusus seperti ruang computer harus bersih keamanan fasilitas yang harus dilakukan dengan penguncian ruang peralatan dan komputer.

5. Perencanaan Disaster : mencakup rencana keadaan darurat, rencana backup, rencana record penting, dan rencana recovery

(Sumber: https://yunizainisyah.wordpress.com/tugas/sistem-informasi-manajemen-1/keamanan-dan-kontrol-sistem-informasi/ )

Tujuan Audit Sistem Informasi

Tujuan audit sistem informasi menurut Ron Weber “1999:11-13” secara garis besar terbagi menjadi empat tahap yaitu:

1.       Pengamanan Aset

Aset informasi suatu perusahaan seperti perangkat keras “hardware”, perangkat lunak “software”, sumber daya manusia, file data harus dijaga oleh suatu sistem pengendalian intern yang baik agar tidak terjadi penyalahgunaan aset perusahaan. Dengan demikian sistem pengamanan aset merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus dipenuhi oleh perusahaan.

2.       Menjaga Integritas

Data Integritas data “data integrity” adalah salah satu konsep dasar sistem informasi. Data memiliki atribut-atribut tertentu seperti: kelengkapan, kebenaran dan keakuratan. Jika integritas data tidak terpelihara maka suatu perusahaan tidak akan lagi memiliki hasil atau laporan yang benar bahkan perusahaan dapat menderita kerugian.

3. Efektifitas Sistem

Efektifitas sistem informasi perusahaan memiliki peranan penting dalam proses pengambilan keputusan, suatu sistem informasi dapat dikatakan efektif bila sistem informasi tersebut telah sesuai dengan kebutuhan user.

4. Efisiensi Sistem

Efisiensi menjadi hal yang sangat penting ketika suatu komputer tidak lagi memiliki kapasitas yang memadai atau harus mengevaluasi apakah efisiensi sistem masih memadai atau harus menambah sumber daya karena suatu sistem dapat dikatakan efisien jika sistem informasi dapat memenuhi kebutuhan user dengan sumber daya informasi yang minimal.

5. Ekonomis

Ekonomis mencerminkan kalkulasi untuk rugi ekonomi “cost/benefit” yang lebih bersifat kuantifikasi nilai moneter “uang”. Efisiensi berarti sumber daya minimum untuk mencapai hasil maksimal. Sedangkan ekonomis lebih bersifat pertimbangan ekonomi.

6. Ketersediaan.

Berhubungan dengan ketersediaan dukukan/layanan teknologi informasi TI.TI hendaknya dapat dapat mendukung secara kontinyu terhadap proses bisnis.Semakin sering terjadi gangguan maka berarti tingkat ketersediann sistem rendah.

7. Kerahasian.

Fokusnya pada proteksi terhadap informasi dan supaya terlindung dari akses dari pihak-pihak yang tidak berwenang.

8. Kehandalan.

Kesesuaian dan keakuratan bagi manajemen dalam pengelolaan organisasi, pelaporan dan pertanggunjawaban.

9. Menjaga Intergritas

Data Integritas data adalah salah satu konsep dasar sistem informasi, data memiliki atribut atribut yaitu : kelengkapan, kebenaran, dan keakuratan.

 

(Sumber:https://repository.nusamandiri.ac.id/repo/files/237916/download/Modul-Audit-Sistem-Informasi-dan-Tata-Kelola..pdf  )

 

 

Poin Pokok Silabus Bahasan 8

Pengantar Proses Audit

 

Proses audit merupakan bagian dari assurance services, yang melibatkan usaha peningkatan kualitas informasi bagi pengambil keputusan serta independensi dan kompetensi dari pihak yang melakukan audit, sehingga kesalahan yang terjadi dalam proses pengauditan akan berakibat berkurangnya kualitas informasi yang diterima oleh pengambil keputusan (Weningtyas dkk, 2006).

 

(Sumber: https://eprints.ums.ac.id/30378/3/BAB_I.pdf )

 

Langkah – langkah audit sistem informasi.

 

Proses audit sistem informasi adalah proses yang berkaitan langsung dengan kompleksitas. Terkadang auditor harus menyelesaikan tugasnya dalam sistem yang sangat banyak dan kompleks. Karena kompleksitas merupakan akar permasalahan dari setiap problem yang dihadapai oleh para profesional, maka para ilmuwan telah berusaha untuk membuat panduan untuk mengurangi kompleksitas tersebut, yaitu :

a. Memecah sebuah sistem yang besar menjadi beberapa subsistem untuk dievaluasi secara terpisah

b. Menentukan kehandalan setiap subsistem dan pengaruh setiap subsistem terhadap kehandalan sistem secara keseluruhan

 

Tahapan Audit Dalam melakukan kegiatan audit, penelit memakai tahapan audit sebagai berikut :

 

1. Planning, mendapatkan pemahaman yang lengkap mengenai bisnis perusahaan yang sedang dilakukan audit. Pada proses ini auditormenentukan ruanglingkup dan tujuan pengendalian, tingkat materialitas, dan outsourcing. Pada tahap ini auditor menetapkan mengapa, bagaimana,kapan dan oleh siapa audit akan dilaksanakan. Untuk mematangkan tahap perencanaan, sebuah program audit awal dipersiapkan untuk menunjukkan sifat, keluasan, dan waktu prosedur-prosedur yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan audit dan untuk meminimalkan risiko-risiko audit.

 

2. Prepare Audit Program, audit program disesuaikan dengan hardware dan software yang dimiliki perusahaan, topologi dan arsitektur jaringan, dan lingkungan serta pertimbangan khusus mengenai industri tersebut. Komponen- komponen dari audit program tersebut adalah: ruang lingkup audit,sasaran audit, prosedur audit, dan rincian administratif (perencanaan dan pelaporan).

 

3. Gather Evidence, bertujuan untuk mendapatkan bukti-bukti memadai, handal, relevan, dan berguna untuk mencapai sasaran audit secara efektif. Jenis bukti yang sering ditemukan auditor pada kerja lapangan yaitu:

observasi proses-proses dan keberadaan dari item fisik seperi pengoperasian komputer atau prosedur backup data, bukti dalam bentuk dokumen (seperti program change logs, sistem access logs, dan tabel otoritas), gambaran dari perusahaan seperi flowcharts, narratives, dan kebijakan dan prosedur yang tertulis), serta analisa seperti prosedur CAATs yang dijalankan pada data perusahaan.

 

4. Form Conclusion, mengevaluasi bukti- bukti dan membuat suatu kesimpulan tentang hasil pemeriksaan yang pada akhirnya akan mengarah pada opini audit. Auditor juga akan melaporkan kelemahan dan kelebihan darisistem.

 

5. Deliver Audit Opinion, informasi umum yang harus ada dalam sebuah laporan audit yaitu:

a. Nama dari organisasi/perusahaan yang diaudit

b. Judul, tanda tangan, dan tanggal

c. Pernyataan sasaran audit dan apakah audit tersebut telah memenuhi sasaran Ruang lingkup audit, termasuk didalamnya area audit fungsional, periode audit yang tercakup, dan sistem informasi, aplikasi, atau lingkungan proses yang diaudit

d. Pernyataan bahwa telah terjadi pembatasan ruang lingkup dimana auditor tidak dapat melaksanakan pekerjaan audit dengan memadai untuk mencapai sasaran-sasaran audit tertentu

e. Pengguna laporan audit yang dikehendaki, termasuk beberapa pembatasan dalam pendistribusian laporan audit

f. Standar-standar dan kriteria yang menjadi dasar auditor untuk melaksanakan pekerjaan audit tersebut g. Penjelasan rinci mengenai temuan- temuan penting

h. Kesimpulan dari area audit yang dievaluasi, termasuk di dalamnya syarat dan kualifikasi penting

i. Saran-saran yang tepat untuk tindakan perbaikan danpeningkatan

j. Peristiwa-peristiwa penting yang terjadi setelah masa fieldwork audit yang bersangkutan berakhir

 

6. Follow Up, melakukan tindak lanjut dengan membuat suatu ketentuan untuk melakukan tindak lanjut bersama dengan perusahaan pada kondisi-kondisi yang dilaporkan atau defisiensi audit yang tidak ter-cover selama kegiatan audit. Tindak lanjut ini dapat dilakukan dengan menelepon pihak menejemen.

 

Tahapan Audit Sistem Informasi

Berikut ini terdapat beberapa tahapan audit sistem informasi, terdiri atas:

 

a. Perencanaan Audit (Planning The Audit)

Perencanaan merupakan fase pertama dari kegiatan audit, bagi auditor eksternal hal ini artinya adalah melakukan investigasi terhadap klien untuk mengetahui apakah pekerjaan mengaudit dapat diterima, menempatkan staff audit, menghasilkan perjanjian audit, menghasilkan informasi latar belakang klien, mengerti tentang masalah hukum klien dan melakukan analisa tentang prosedur yang ada untuk mengerti tentang bisnis klien dan mengidentifikasikan resiko audit.

 

b. Pengujian Pengendalian (Test Of Controls)

Auditor melakukan kontrol test ketika mereka menilai bahwa kontrol resiko berada pada level kurang dari maksimum, mereka mengandalkan kontrol sebagai dasar untuk mengurangi biaya testing. Sampai pada fase ini auditor tidak mengetahui apakah identifikasi kontrol telah berjalan dengan efektif, oleh karena itu diperlukan evaluasi yang spesifik.

 

c. Pengujian Transaksi (Test Of Transaction)

Auditor menggunakan test terhadap transaksi untuk mengevaluasi apakah kesalahan atau proses yang tidak biasa terjadi pada transaksi yang mengakibatkan kesalahan pencatatan material pada laporan keuangan. Tes transaksi ini termasuk menelusuri jurnal dari sumber dokumen, memeriksa file dan mengecek keakuratan.

 

d. Pengujian Keseimbangan atau Keseluruhan Hasil (Tests Of Balances or Overal Result)

Untuk mengetahui pendekatan yang digunakan pada fase ini, yang harus diperhatikan adalah pengamatan harta dan kesatuan data. Beberapa jenis subtantif tes yang digunakan adalah konfirmasi piutang, perhitungan fisik persediaan dan perhitungan ulang aktiva tetap.

 

e. Penyelesaian / Pengakhiran Audit (Completion Of The Audit)

Pada fase akhir audit, eksternal audit akan menjalankan beberapa test tambahan terhadap bukti yang ada agar dapat dijadikan laporan. Lingkup Audit Sistem Informasi pada umumnya difokuskan kepada seluruh sumber daya sistem informasi yang ada, yaitu Aplikasi, Informasi, Infrastruktur dan Personil.

 

(Sumber:https://repository.nusamandiri.ac.id/repo/files/237916/download/Modul-Audit-Sistem-Informasi-dan-Tata-Kelola..pdf  )

 

 

Poin Pokok Silabus Bahasan 9

Analisis Risiko

 

 

Konsep Resiko

 

Agar segala sesuatu berjalan sesuai yang seharusnya, maka perlu ada pengawasan. Salah satu bentuk/cara pengawasan ialah yang disebut system pengendalian intern (internal control system) yang melekat pada system dan prosedur organisasi tersebut. Pendekatan Audit SI /TI berbasis resiko digunakan untuk menilai resiko dari poses bisnis yang berlangsung diorganisasi atau perusahaan dan yang terpenting dapat membantu pengaudit SI/TI dalam memutuskan metode pengujian yang digunakan dalm pelaksaaan audit nantinya dengan melakukan uji kepatutan atau uji secara substantif

 

Jenis Jenis Resiko

Adapun Jenis jenis resiko sebagai berikut :

1. Risiko Bisnis (Bussiness Risks) Risiko bisnis adalah risiko yang dapat disebabkan oleh faktor-faktor intern maupun ekstern yang berakibat kemungkinan tidak tercapainya tujuan organisasi (business goals objectives).

a. Risiko ekstern (risk from external environment) ialah misalnya antara lain perubahan kondisi perekonomian tingkat kurs yang berubah mendadak, dan munculnya pesaing baru yang mempunyai potensi bersaing tinggi

b. Risiko internal ialah risiko yang berasal dari internal misalnya antara lain permasalahan kepegawaian, risiko-risiko yang berkaitan dengan peralatan atau mesin, risiko keputusan yang tidak tepat, dan kecurangan manajemen (Manajement Fraud)

 

2. Risiko Bawaan (Inherent Risks)

Risiko bawaan ialah potensi kesalahan atau penyalahgunaan yang melekat pada suatu kegiatan, jika tidak ada pengendalian intern. Misalnya kegiatan kampus, apabila tidak ada absensi/daftar kehadiran kuliah akan banyak mahasiswa yang cenderung tidak disiplin hadir mengikuti kuliah. Inherent risk atau resiko bawaan merupakan resiko kesalahan audit yang merupakan aktivitas bawaan dari proses bisnis.Resiko kesalahan tersebut bersifat indenpenden dan akan semakin tinggi jika compensating control tidak tersedia.

 

3. Risiko Pengendalian (Control Risks)

Dalam suatu organisasi yang baik seharusnya sudah ada risks assessment, dan dirancang pengendalian intern secara optimal terhadap setiap potensi risiko. Risiko pengendalian ialah masih adanya risiko meskipun sudah ada pengendalian. Control Risk atau resiko kontrol merupakan resiko kesalahan yang tidak terdeteksi oleh kontrol internal itu sendiri selama proses audit berlangsung. Resiko kontrol tersebut menjadi rendah jika prosedur validasi tersedut dilakukan secaraterkomputerisasi. Risiko pengendalian tidak pernah mencapai keyakinan penuh bahwa semua salah saji material akan dapat dideteksi ataupun dicegah. Risiko pengendalian merupakan fungsi dari efektivitas struktur pengendalian inter. Semakin efektif struktur pengendalian intern perusahaan klien, semakin kecil risiko pengendaliannya. Penetapan risiko pengendalian didasarkan atas kecukupan bukti audit yang menyatakan bahwa struktur pengendalian inter klien adalah efektif. Ada dua macam risiko pengendalian, yaitu:

1. Actual level of control risk Assessed level of control risk yang ditentukan dengan melakukan modifikasi prosedur untuk menghimpun pemahaman struktur pengendalian intern terkait dengan asersi, dan prosedur untuk melaksanakan test of control. Pada saat perencanaan audit, auditor menentukan besarnya risiko pengendalian yang direncanakan untuk setiap asersi yang signifikan.

2. Planned assessed level of control risk ini ditentukan berdasar asumsi tentang efektivitas rancangan dan operasi struktur pengendalian intern yang relevan.

 

4. Risiko Deteksi (Detection Risks) Risiko deteksi adalah risiko yang terjadi karena prosedur audit yang dilakukan mungkin tidak dapat mendeteksi adanya error yang cukup materialitas atau adanya kemungkinan fraud. Risiko deteksi mungkin dapat terjadi karena auditor ternyata dalam prosedur auditnya tidak dapat mendeteksi terjadinya existing control failures (system pengendalian intern yang ada ternyata tidak berjalan baik).

 

5. Audit (Audit Risks) Risiko audit sebenarnya adalah kombinasi dari inherent risks, control risks, dan detection risks. Risiko audit adalah risiko bahwa hasil pemeriksaan auditornya ternyata belum dapat mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Ada Pun rumus mengetahui Resiko Audit dengan rumus dibawah:

    


 Mengenai jenis – jenis risiko, dalam bukunya yang berjudul Accounting Information System, F.L. Jones dan D.V. Rama (2003,p127-134) tidak membahas masalah business risk, tetapi menyebut risiko – pelaksanaan (execution risks) yang mungkin lebih sempit ruang lingkupnya. Jones dan Rama berpendapat risiko pada hakekatnya dapat dikelompokkan kedalam 4 jenis risiko, yaitu execution risks, information risks, asset protection risks, dan performance risks.

1. Execution risk Execution risk adalah risiko yang berkaitan dengan tidak tercapainya sesuatu yang seharusnya dilaksanakan.

2. Information risk Risiko informasi yang dimaksud oleh Jones dan Rama ini ialah risiko yang berkaitan dengan kemungkinan kesalahan atau penyalahgunaan data informasi. Risiko terjadi waktu mencatat/entri data (recording risks) serta updating risks.

3. Asset protection risk Risiko yang berkaitan dengan save guarding assets ini ialah kerusakan, hilang, atau asset tidak digunakan seperti yang seharusnya, maupun risiko yang dapat timbul terhadap assets perusahaan akibat keputusan yang salah.

4. Performance Risk Risiko kinerja ini adalah resiko berkaitan dengan kinerja pegawai/ kinerja perusahaan yang tidak dapat dilaksanakan sesuai tujuan/standar/ukuran yang ditetapkan. Pada hakekatnya yang bertanggung jawab dan akan mempertanggung jawabkan pengelolaan perusahaan kepada para share/stockholder dan stakeholder adalah para pengurus perusahaan, yang menurut Undang-undang Perseroan Terbatas di Indonesia ialah para anggota Dewan Direksi dan anggota Dewan Komisaris.

 

Dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari, yang melakukan tugas operasional ialah para manajer tingkat menengah, supervisor, staf dan pegawai pelaksana, yang melaksanakan tugas sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan pimpinan. Jika mereka tidak melakukan tugas sesuai dengan yang seharusnya, atau kalau kinerjanya tidak sesuai dengan yang seharusnya. Hal ini merupakan risiko yang dipreventif, dideteksi, atau dikoreksi/diperbaiki.

 

Audit resiko merupakan risiko kemungkinan auditor ekstern memberikan opini yang salah terhadap fairness laporan keuangan auditee, atau temuan dan rekomendasi yang salah pada laporan hasil pemeriksaan auditor intern. Risiko ini sangat berbahaya karena auditor sudah memberikan opini atau rekomendasi bahwa “Things are okay and fine, but they are not”

 

Efek Risiko dalam sistem informasi ditemui pada:

1. Strategi (Strategic):

risiko dimana sistem informasi tidak sesuai dengan tujuan organisasi dan tidak mendukung pencapaian misi.

 

2. Operasi (Operations):

risiko dimana sistem informasi menimbulkan beban yang terlalu besar bagi organisasi. Selain itu ketergantungan organisasi terhadap suatu sistem informasi berarti apabila sistem tersebut tidak tersedia selama waktu tertentu dapat menimbulkan risiko besar bagi operasional.

 

3. Pelaporan (Reporting):

risiko dimana sistem informasi tidak dapat diandalkan untuk menghasilkan informasi yang akurat, lengkap dan tepat waktu.

 

4. Kepatuhan (Compliance):

risiko dimana sistem informasi malah menimbulkan pelanggaran hukum dan regulasi yang merugikan bagi organisasi baik secara finansial maupun reputasi.

 

Keterkaiatan antar Tujuan Bisnis dan TI akan dipaparkan dengan mengacu pada kerangka kerja COBIT. Kerangka kerja tersebut memberikan pemetaan keterkaitan antara tujuan bisnis dengan tujuan TI sehingga dapat dijadikan acuan bagi perusahaan dalam menerjemakan kebutuhan bisnis akan tersediaan TI.

 

(Sumber:https://repository.nusamandiri.ac.id/repo/files/237916/download/Modul-Audit-Sistem-Informasi-dan-Tata-Kelola..pdf )

 

Poin Pokok Silabus Bahasan 10

Definisi Kontrol Internal dan Kontrol Internal pada Sistem nformasi

 

 

Definisi Kontrol Intenal

 

George E. Bennett (1930) : Sistem pengecekan internal sebagai koordinasi dan sistem akun-akun dan prosedur perkantoran yang berkaitan sehingga seorang karyawan selain mengerjakan tugasnya sendiri juga secara berkelanjutan mengecek pekerjaan karyawan yang lain untuk hal-hal tertentu yang rawan kecurangan.

 

AICPA Committee on Auditing procedure (1949) : Pengendalian internal (internal control) berisi rencana organisasi dan semua metode yang terkoordinasi dan pengukuran-pengukuran yang diterapkan perusahaan untuk mengamankan aktiva, memeriksa akurasi dan keandalan data akuntansi, meningkatkan efisiensi operasional, dan mendorong ketaatan terhadap kebijakan manajerial yang telah ditetapkan.

 

5 komponen internal control menurut COSO :

1. Lingkungan pengendalian (Control Environtment).

2. Penentuan risiko (Risk Assesment).

3. Aktivitas pengendalian (Control Activities).

4. Informasi & Komunikasi (Information & Communication).

5. Pemantauan (Monitoring).

 

Sifat dari control :

a. Preventif : untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

b. Detektif : untuk mendetkesi dan memperbaiki hal-hal yang tidak diinginkan yang telah terjadi.

c. Direktif : untuk menyebabkan / mengarahkan terjadinya hal yang diinginkan.

 

(Sumber: http://eprints.binadarma.ac.id/5392/1/Internal%20Control.pdf )

 

 

 

Pada awal konsep / bidang kontrol internal mungkin hanya merupakan mekanisme yang sangat tinggi dari segi pandang manajemen perusahaan yaitu sebagai sistem yang dapat ,menjamin dipatuhinya kebijakan perusahaan oleh para pegawai, melindungi aset perusahaan, dan menghindari terjadinya kesalahan / kekeliruan dan penyalahgunaan

 

Sasaran kontrol internal dikategorikan menjadi beberapa area sebagai berikut:

a. Operations – efisisensi dan efektifitas operasi dalam mencapai sasaran bisnis yang juga meliputi tujuan performansi dan keuntungan.

b. Financial reporting – persiapan pelaporan anggaran finansial yang dapat dipercaya.

c. Compliance – pemenuhan hukum dan aturan yang dapat dipercaya.

 

(Sumber:https://repository.nusamandiri.ac.id/repo/files/237916/download/Modul-Audit-Sistem-Informasi-dan-Tata-Kelola..pdf )

 

Sistem pengendalian intern merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem informasi akuntansi. Tanpa dukungan sistem pengendalian intern yang memadai sistem informasi akuntansi tidak akan dapat menghasilkan informasi yang handal untuk pengambilan keputusan. Sistem pengendalian intern yang diterapkan pada sistem informasi akuntansi sangat berguna untuk mencegah dan menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Sistem pengendalian intern juga dapat digunakan untuk mengecek kesalahan-kesalahan yang terjadi sehingga dapat dikoreksi. Sistem pengendalian intern meliputi struktur organisasi, metode dan ukuranukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan dapat dipercaya tidaknya data akuntansi mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijaksanaan.

 

Dalam arti sempit, pengawasan intern merupakan pengecekan penjumlahan mendatar (crossfooting) maupun penjumlahan menurun (footing). Dalam artian luas, pengawasan intern tidak hanya meliputi pekerjaan pengecekan tetapi meliputi semua alat-alat yang digunakan manajemen untuk mengadakan pengawasan. Pengawasan intern itu meliputi struktur organisasi dan semua cara-cara serta alat yang dikoordinasikan yang digunakan dalam perusahaan dengan tujuan untuk menjaga keamanan harta perusahaan, memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi, memajukan efisiensi di dalam operasi, dan membantu dipatuhinya kebijaksanaan manajemen yang telah ditetapkan lebih dahulu.

 

Berdasarkan lingkupnya, pengendalian internal dibedakan menjadi:

 

1) Pengendalian akuntansi yang berfungsi untuk mengamankan sumber daya organisasi dari penyalahgunaan dan menjaga kecermatan data akuntansi.

2) Pengendalian administratif yang berfungsi mendorong efisiensi operasi dan mengupayakan agar kebijakan ataupun tujuan manajemen dapat tercapai.

 

Pengendalian internal juga diklsifikasikan menjadi pengendalian umum dan pengendalian aplikasi.Pengendalian umum adalah pengendalian yang dirancang agar lingkungan pengendalian organisasi menjadi stabil dan terkelola dengan baik sehingga dapat mendukung efektifitas pengendalian aplikasi. Sedangkan pengendalian aplikasi adalah pengendalian yang digunakan untuk mencegah, mendeteksi, dan memperbaiki kesalahan serta penyimpangan dalam transaksi pada saat diproses.

 

Apapun bentuk klasifikasi dari sistem pengendalian internal, semuanya memiliki tujuan yang sama yaitu menjaga aktiva organisasi, memastikan akurasi dan keandalan catatan serta informasi akuntansi, mendorong efisiensi dalam operasional organisasi, dan mengukur kesesuaian dengan kebijakan serta prosedur yang ditetapkan oleh pihak manajemen.

 

(Sumber: https://media.neliti.com/media/publications/314765-pengendalian-internal-dalam-sistem-infor-8acbd84c.pdf )

 

 


Poin Pokok Silabus Bahasan 11

Cara Melakukan Audit Sistem Informasi

 

 

Tahapan Audit Sistem Informasi

 

Tahapan audit menurut Gallegos. Dalam bukunya “Audit and Control of Information System” yang mencakup beberapa aktivitas yaitu perencanaan, pemeriksaan lapangan, pelaporan dan tindak lanjut. Berikut dibawah tahapan dari audit sistem informasi, adalah sebagai berikut:

 

1. Perencanaan (Planning)

 

Tahap perencanaan ini yang akan dilakukan adalah menentukan ruang lingkup (scope), objek yang akan diaudit, standard evaluasi dari hasil audit dan komunikasi dengan managen pada organisasi yang bersangkutan dengan menganalisa visi, misi, sasaran dan tujuan objek yang diteliti serta strategi, kebijakan-kebijakan yang terkait dengan pengolahan investigasi. Tahapan pertama dalam audit bagi auditor eksternal yang berarti menyelidiki dari awal atau melanjutkan yang ada unutk menentukan apakah pemeriksaan tersebut dapat diterima, penempatan staf audit yang sesuai melaukan pengecekan informasi latar belakang klien, mengerti kewajiban utama dari klien dan mengidentifikasi area resiko

 

2. Pemeriksaan Lapangan (Field Work)

 

Tahap ini yang akan dilakukan adalah pengumpulan informasi yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dengan pihak-pihak yang terkait. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapan berbagai metode pengumpulan data yaitu: wawancara, quesioner ataupun melakukan survey ke lokasi penelitian.

 

3. Pelaporan (Reporting)

 

Audit Sistem Informasi – Setelah proses pengumpulan data, maka akan didapat data yang akan diproses untuk dihitung berdasarkan perhitungan maturity level. Pada tahap ini yang akan dilakukan memberikan informasi berupa hasil-hasil dari audit. Perhitungan maturity level dilakukan mengacu pada hasil wawancara, survey dan rekapitulasi hasil penyebaran quesioner. Berdasarkan hasil maturity level yang mencerminkan kinerja saat ini (current maturity level) dan kinerja standard atau ideal yang diharapkan akan menjadi acuan untuk selanjutnya dilakukan analisis kesenjangan (gap). Hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui kesenjangan (gap) serta mengetahui apa yang menyebabkan adanya gap tersebut.

 

4. Tindak Lanjut (Follow Up)

 

Tahap ini yang dilakukan adalah memberikan laporan hasil audit berupa rekomendasi tindakan perbaikan kepada pihak managemen objek yang diteliti, untuk selanjutnya wewenang perbaikan menjadi tanggung jawab managemen objek yang diteliti apakah akan diterapkan atau hanya menjadi acuhan untuk perbaikan dimasa yang akan datang.

 

5. Pengujian atas Control (Tests of Controls)

 

Tahap ini dimulai dengan pemfokusan pada pengendalian menegemen, apabila hasil yang ada tidak sesuai dengan harapan, maka pengendalian manegemen tidak berjalan sebagai mana mestinya. Apabila auditor menemukan kesalahan yang serius pada pengendalian manegemen, maka mereka akan mengemukakan opini atau mengambil keputusan dalam pengujian transaksi dan saldo untuk hasilnya.

 

 

 

 

6. Pengujian atas Transaksi (Tests of Transaction)

 

Pengujian yang termasuk adalah pengecekan jurnal yang masuk dari dokumen utama, menguji nilai kekayaan dan ketepatan komputasi. Komputer sangat berguna dalam pengujian ini dan auditor dapat mengunakan software audit yang umum untuk mengecek apakah pembayaran bunya dari bank telak dikalkulasi secara tepat.

 

7. Pengujian atas Keseimbangan atau Hasill Keseluruhan (Tests of Balances or Overall Results)

 

Auditor melakukan pengujian ini agar bukti penting dalam penilaian akhir kehilangan atau pencatatan yang keliru yang menyebabkan fungsi sistem informasi gagal dalam memelihara data secara keseluruhan dan mencapai sistem yang efekti dan efesien. Dengan kata lain, dalam tahap ini mementingkan pengamatan asset dan integritas data yang obyektif.

 

(Sumber: https://sis.binus.ac.id/2021/06/15/audit-sistem-informasi-2/ )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar